KLASIFIKASI - TAWAKAL
Pada dasarnya, tawakal kepada
Allah dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
- Tawakal kepada Allah dalam upaya pemenuhan keinginan hamba dan keuntungan duniawi atau menahan datangnya bahaya di dunia.
- Tawakal kepada Allah untuk mencapai hal yang diridhai dan dicintai-Nya, yaitu : tawakal dalam iman, jihad dan dakwah agama-Nya.
Kedua
tawakal ini memiliki keutamaan yang hanya mampu dihitung oleh Allah swt. Orang
yang bertawakal untuk mencapai hal yang diridhai dan dicintai Allah secara
otomatis sudah mencakup tawakal kepada Allah dalam upaya memenuhi kebutuhannya
di dunia.
Jika
seorang hamba mengambil sikap tawakal pada poin pertama, meskipun telah
mencukupi (terpenuhi), tetapi hal itu belum tentu mendapatkan ridha dari Allah swt.
Tawakal
tertinggi adalah tawakal kepada Allah dalam menunjukkan jalan hidayah
(berda’wah), meninggikan kalimat tauhid dalam mengikuti Sunnah Rasulullah saw
(amar ma’ruf nahi mungkar), dan berjihad melawan musuh-musuh Allah. Tawakal
seperti ini hanya dimiliki oleh para Rasul Allah swt.
Rahasia
tawakal ada di hati yang selalu bergantung kepada Allah swt. Jika dia telah
berniat dan bertawakal kepada Allah, tidak ada satu pun rintangan yang akan
dapat membatalkan niatnya. Hatinya meyakini, segala usahanya akan sia-sia jika
lisannya berkata, “aku bertawakal kepada Allah swt”, tetapi hatinya masih
mengharapkan/menggantungkan bantuan manusia untuk mengatasi kesulitannya.
Jadi,
esensi tawakal menyatakan bahwa tawakal yang diucapkan secara lisan tidaklah
sama dengan tawakal hakiki (tawakal yang juga meliputi hati). Hal ini serupa
dengan kata “tobat” yang terucap oleh lisan, tetapi orang yang mengucapkannya
masih sering bermaksiat. Tobat semacam ini berbeda dengan tobat yang diikrarkan
dalam hati meskipun lisan tidak mengucapkan.
Seorang
hamba yang mengatakan bahwa dia bertawakal kepada Allah dan mengira bahwa dia
telah bertawakal pada pihak yang tepat, tetapi hatinya masih bergantung kepada selain
Allah serupa dengan hamba Allah yang berkata telah bertobat tapi dia tetap melakukan
maksiat. (#Imam ibnu Qayyim al-Fawa’id, hlm 129 -130 dengan sedikit perubahan).
Dengan makna lain, jika
kita ingin mendapatkan sesuatu keinginan
yang diridhai oleh Allah, maka adanya bantuan manusia itu hanya
merupakan bentuk usaha (ikhtiar) belaka bukan suatu tujuan, karena bukan karena
manusia keinginan kita bisa terpenuhi atau tertolak tapi karena Kehendak-Nya
maka hal tersebut dapat terpenuhi atau tertolak. Dan sikap itu adanya di hati (qolbu) kita. (#blogger).
Adapun
korelasi atas dua hal klasifikasi diatas jika dihubungkan dengan makna tawakal
sebelumnya maka Sikap Tawakal yang sebaiknya dimiliki oleh seorang mukmin yang
utamanya ada 2 (dua) yaitu Sikap Sabar dan Sikap Syukur.
Sikap sabar jika hasil yang
diperoleh dari usaha yang telah di jalankannya tidak sesuai dengan keinginannya
dan sikap syukur jika hasil yang
diperoleh dari usaha yang telah dijalankan sesuai dengan keinginannya.
Sikap-sikap ini menunjukan juga kualitas tawakal seorang mukmin dimana kalau
memang dia telah bertawakal kepada Allah maka dia telah bergantung hanya kepada
Allah dan menyakini keputusan Allah adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya. sehingga jika dia bersabar maka hatinya
akan tetap menjaga prasangka baiknya
kepada Allah, begitu juga jika bersyukur maka hatinya akan memuji Allah dan menampakkan
bentuk syukurnya melalui berbagi kenikmatan dengan manusia lainnya. (#blogger).
Blog ilmu-tawakal.blogspot.com
sebagian besar akan menulis ulang (saduran) dari kitab “ENSIKLOPEDIA AKHLAK
MUHAMMAD SAW” Penulis : Mahmud Al-Mushri, Penerbit PENA. BAB 6 – TAWAKAL. Dan ditambah sesuai
dengan pemahaman blogger.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar