Translate

Jumat, 27 Maret 2015

KLASIFIKASI - TAWAKAL



KLASIFIKASI - TAWAKAL

Pada dasarnya, tawakal kepada Allah dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

  1. Tawakal kepada Allah dalam upaya pemenuhan keinginan hamba dan keuntungan duniawi atau menahan datangnya bahaya di dunia.
  2. Tawakal kepada Allah untuk mencapai hal yang diridhai dan dicintai-Nya, yaitu : tawakal dalam iman, jihad dan dakwah agama-Nya.
Kedua tawakal ini memiliki keutamaan yang hanya mampu dihitung oleh Allah swt. Orang yang bertawakal untuk mencapai hal yang diridhai dan dicintai Allah secara otomatis sudah mencakup tawakal kepada Allah dalam upaya memenuhi kebutuhannya di dunia.

Jika seorang hamba mengambil sikap tawakal pada poin pertama, meskipun telah mencukupi (terpenuhi), tetapi hal itu belum tentu mendapatkan ridha dari Allah swt.

Tawakal tertinggi adalah tawakal kepada Allah dalam menunjukkan jalan hidayah (berda’wah), meninggikan kalimat tauhid dalam mengikuti Sunnah Rasulullah saw (amar ma’ruf nahi mungkar), dan berjihad melawan musuh-musuh Allah. Tawakal seperti ini hanya dimiliki oleh para Rasul Allah swt.

Rahasia tawakal ada di hati yang selalu bergantung kepada Allah swt. Jika dia telah berniat dan bertawakal kepada Allah, tidak ada satu pun rintangan yang akan dapat membatalkan niatnya. Hatinya meyakini, segala usahanya akan sia-sia jika lisannya berkata, “aku bertawakal kepada Allah swt”, tetapi hatinya masih mengharapkan/menggantungkan bantuan manusia untuk mengatasi kesulitannya.

Jadi, esensi tawakal menyatakan bahwa tawakal yang diucapkan secara lisan tidaklah sama dengan tawakal hakiki (tawakal yang juga meliputi hati). Hal ini serupa dengan kata “tobat” yang terucap oleh lisan, tetapi orang yang mengucapkannya masih sering bermaksiat. Tobat semacam ini berbeda dengan tobat yang diikrarkan dalam hati meskipun lisan tidak mengucapkan.
Seorang hamba yang mengatakan bahwa dia bertawakal kepada Allah dan mengira bahwa dia telah bertawakal pada pihak yang tepat, tetapi hatinya masih bergantung kepada selain Allah serupa dengan hamba Allah yang berkata telah bertobat tapi dia tetap melakukan maksiat. (#Imam ibnu Qayyim al-Fawa’id, hlm 129 -130 dengan sedikit perubahan).

Dengan makna lain, jika kita ingin mendapatkan sesuatu keinginan  yang diridhai oleh Allah, maka adanya bantuan manusia itu hanya merupakan bentuk usaha (ikhtiar) belaka bukan suatu tujuan, karena bukan karena manusia keinginan kita bisa terpenuhi atau tertolak tapi karena Kehendak-Nya maka hal tersebut dapat terpenuhi atau tertolak.  Dan sikap itu adanya di hati (qolbu) kita. (#blogger).

Hal inilah yang membuat hubungan antara keimanan dan tawakal menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan, karena hakekat iman adalah diucapkan secara lisan, dibenarkan oleh hati dan diimplementasikan lewat amal perbuatan. Begitu juga dengan tawakal hanya saja koridor tawakal lebih banyak penekanan pada ketergantungan diri hanya kepada Allah yang terus menerus terpelihara di dalam hati dengan tetap mendahulukan  usaha dan kerja keras secara maksimal. Sehingga apapun hasil yang telah ditetapkan oleh Allah, kita tidak kecewa dan menerimanya dengan lapang dada. (#blogger)

Adapun korelasi atas dua hal klasifikasi diatas jika dihubungkan dengan makna tawakal sebelumnya maka Sikap Tawakal yang sebaiknya dimiliki oleh seorang mukmin yang utamanya ada 2 (dua) yaitu Sikap Sabar dan Sikap Syukur.

Sikap sabar jika hasil yang diperoleh dari usaha yang telah di jalankannya tidak sesuai dengan keinginannya dan sikap syukur jika hasil yang diperoleh dari usaha yang telah dijalankan sesuai dengan keinginannya. Sikap-sikap ini menunjukan juga kualitas tawakal seorang mukmin dimana kalau memang dia telah bertawakal kepada Allah maka dia telah bergantung hanya kepada Allah dan menyakini keputusan Allah adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya.  sehingga jika dia bersabar maka hatinya akan  tetap menjaga prasangka baiknya kepada Allah, begitu juga jika bersyukur maka hatinya akan memuji Allah dan menampakkan bentuk syukurnya melalui berbagi kenikmatan dengan manusia lainnya.  (#blogger).

Blog ilmu-tawakal.blogspot.com sebagian besar akan menulis ulang (saduran) dari kitab “ENSIKLOPEDIA AKHLAK MUHAMMAD SAW” Penulis : Mahmud Al-Mushri, Penerbit  PENA. BAB 6 – TAWAKAL. Dan ditambah sesuai dengan pemahaman blogger.





DEFINISI - TAWAKAL



DEFINISI - TAWAKAL

TAWAKAL adalah menyandarkan hati kepada Allah ketika mencari maslahat atau menghindari mudarat dalam pekara duniawi dan ukhrawi. Mukmin yang bertawakal akan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah swt, dan mewujudkan keimanannya dengan menyakini bahwa hanya Allah yang mampu memberi atau tidak memberi sesuatu, dan mendatangkan manfaat atau marabahaya (# Ibnu Rajab, Jami’ul-‘Ulum wa al-Hikam, hlm 409).
Menurut Jurjani, tawakal adalah mempercayai semua yang datang dari Allah dan tidak mempercayai semua yang ada di tangan manusia (#At-Ta’rifat, hlm 74).
Abu Turab an- Nakhsyabi berpendapat bahwa tawakal ini terdiri atas lima hal yang saling berkaitan, yaitu :

  1. Total dalam beribadah
  2. Menggantungkan hati untuk memenuhi hak Allah
  3. Menenangkan diri dengan merasa serba cukup atas pemberian-Nya
  4. Bersyukur jika diberi dan
  5. Bersabar jika bertahan (diuji/belum diberi)
Alim ulama sepakat bahwa tawakal tidak bertentangan dengan usaha dan kerja keras dalam mewujudkan sesuatu. Bahkan, tawakal belum dapat dibenarkan jika tidak didasari dengan usaha (ikhtiar).  

Jadi, jika ada seseorang yang mengklaim telah bertawakal, tetapi tidak dibarengi dengan usaha, ia sama saja tidak bertawakal karena tawakalnya masih kurang benar.

Sahal bin Abdullah menuturkan bahwa siapa saja yang tidak berusaha berarti telah melanggar Sunnah. Siapa pun yang merusak tawakal berarti telah merusak keimanannya.

Tawakal adalah cermin kepribadian mulai Nabi Muhammad saw, sedangkan usaha dan bekerja keras merupakan Sunnah beliau. Barang siapa yang ingin mengikuti kepribadian mulia beliau maka tidak sepantasnya melupakan Sunnah beliau.

Menurut Sa’id bin Jubair, tawakal kepada Allah swt merupakan tanda kesempurnaan iman.


Blog ilmu-tawakal.blogspot.com sebagian besar akan menulis ulang (saduran) dari kitab “ENSIKLOPEDIA AKHLAK MUHAMMAD SAW” Penulis : Mahmud Al-Mushri, Penerbit  PENA. BAB 6 – TAWAKAL.


Senin, 16 Maret 2015

PENDAHULUAN - TAWAKAL



PENDAHULUAN - TAWAKAL
_____________________________________________________________________

TAWAKAL adalah Jalan terindah dan teragung bagi para hamba pilihan. Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk bertawakal. Allah swt dan Rasul-Nya memerintahkan para mukmin untuk memiliki akhlak mulia ini. Allah swt berfirman :

29. Katakanlah: "Dia-lah Allah yang Maha Penyayang Kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah Kami bertawakkal. kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata". (QS. Al-Mulk [67] : 29).

Dilain ayat, Allah juga berfirman :

79. sebab itu bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya kamu (Muhammad) berada di atas kebenaran yang nyata. (QS. An-Naml [27] : 79).


š81. dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: "(Kewajiban Kami hanyalah) taat". tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, Maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. cukuplah Allah menjadi Pelindung. (QS. An-Nisa’ [4] : 81).
 

58. dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.(QS. Al-furqan [25] : 58).



159. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(QS. Ali ‘Imran [3] : 159).


12. mengapa Kami tidak akan bertawakkal kepada Allah Padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada Kami, dan Kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri". (QS. Ibrahim [14] : 12)



173. (yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia[orang-orang Quraisy] telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung". QS Ali’Imran [3] : 173).

4. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya[lih note]: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali." (QS. Al Mumtahanah [60] : 4).


[note :] Nabi Ibrahim pernah memintakan ampunan bagi bapaknya yang musyrik kepada Allah : ini tidak boleh ditiru, karena Allah tidak membenarkan orang mukmin memintakan ampunan untuk orang-orang kafir (Lihat surat An Nisa ayat 48).

23. berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (QS. Al-Ma’idah [5] : 23).
 

11. Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. dan tidak patut bagi Kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal. (QS. Ibrahim [14] : 11).

Allah menyebutkan kata “Tawakal” hanya untuk orang-orang yang dekat dengan-Nya, orang-orang yang mulia di sisi-Nya dan orang-orang pilihan-Nya. Keimanan mereka harus disertai dengan Tawakal. Ketika tidak disertai dengan tawakal, keimanan itu tidak sempurna. Orang yang tidak bertawakal cenderung memiliki keimanan yang tipis.


Allah swt menjelaskan karakter orang yang beriman dan bertawakal di dalam firman-Nya berikut ini :

2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-anfal [8] : 2).


Allah swt, juga memberitahukan para rasul-Nya bahwa tawakal adalah tempat bertopang dan bersandar mereka. Karena itu Allah swt memerintahkan mereka untuk memelihara tawakal di dalam diri mereka. Allah swt berfirman :


84. berkata Musa: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, Maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri."


85. lalu mereka berkata: "Kepada Allahlah Kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan Kami sasaran fitnah bagi kaum yang'zalim, (QS. Yunus [10] : 84 – 85).


Oleh Karena itu, kita harus meneladani perikehidupan Rasulullah saw, karena beliau yang mengajarkan kepada kita cara terbaik untuk yakin dan tawakal kepada Allah swt. Dengan begitu, Allah mencatat usaha kita dalam bertawakal kepada-Nya sebagai cara untuk menyatukan kita bersama Rasulullah saw dalam surga.

_________________________________
Blog ilmu-tawakal.blogspot.com sebagian besar akan menulis ulang (saduran) dari kitab “ENSIKLOPEDIA AKHLAK MUHAMMAD SAW” Penulis : Mahmud Al-Mushri, Penerbit  PENA. BAB 6 – TAWAKAL.

Dengan tujuan untuk memberikan penjabaran tuntas mengenai ilmu tawakal dan pengalaman blogger sendiri akan implementasi Tawakal dalam kehidupan nyata.