Translate

Minggu, 30 Agustus 2020

Indahnya Cinta Sesama Manusia Karena Allah.

Kisah Nyata :
Indahnya Cinta Sesama Manusia Karena Allah.
👇
Ini kisah nyata yang dialami Pak Ust Uyad Albantani (Uy).
Sekitar tahun 2014, beliau mendapat undangan ceramah keluar kota.
Berangkatlah beliau dari rumah menuju bandara Soekarno-Hatta dengan taksi.
Sepanjang perjalanan beliau ngobrol dengan Supir Taksi (ST);
👇
Uy: _"Ngomong², udah berapa lama nyupir taksi pak?_

ST: _"Owh belum lama pak, baru beberapa bulan saja"._

Uy: _"Ooh gitu, emang sebelumnya kerja dimana?"._

ST: _"Dulu sempat kerja di perusahaan perkapalan di Surabaya pak, kebetulan dulu pernah ambil Tehnik Mesin di ITS, trus perusahaannya bangkrut jadi saya kena PHK, lama nganggur di Surabaya akhirnya saya putuskan pindah ke Jakarta._

Uy: _"Wah, sayang sekali ya, ngomong² anak sudah berapa?"._

ST: _"Alhamdulillah sudah 4 pak, yang besar malah udah mau tamat SMA"._

Uy: _"Oh gitu, kalo boleh tau, narik taksi sehari bersih bisa dapet berapa sih...?"._

ST: _"Ya Alhamdulillah pak, kalo di rata² sehari bisa dapet 75 ribu, kalo lagi rame bisa sampe 150 ribu, dan gak tentu jugalah pak"._

Uy: _"Oh ya, tapi sebelumnya mohon maaf nih, emang segitu cukup buat anak istri?"._

ST: _"Ya insya Allah cukup pak, daripada gak ada sama sekali"._

Uy: _"Masyaa Allah, kok bisa cukup ya pak, ini di Jakarta lho?"._

ST: _"Ya kalo dihitung² sih gak cukup pak, tapi sekarang saya merasa lebih tenang pak. Alhamdulillah sekarang kerja bisa sambil ngurus masjid. Alhamdulillah juga saya masih bisa rutin sedekah,10% dari hasil naksi saya infakkan ke masjid"._

Uy: _"Ya Allah, jadi uang segitu masih dipotong lagi buat sedekah?"_.( tak terasa air matanya menetes haru).

ST: _"Iya pak, mumpung Allah lagi ngasih kesempatan saya bersedekah, dulu waktu masih jaya boro² saya mau sedekah pak. Makanya habis apa yang saya miliki. Saya bersyukur kali sekarang bisa dekat sama Allah"._

Tak terasa, mobil sudah memasuki portal menuju terminal 1B Soetta, argo menunjukkan 115 ribu lalu dibayar oleh Pak Uyad 150 ribu.
Karena rasa haru yang mendalam dari cerita supir taksi tadi, sebelum keluar dari mobil pak Uyad mengeluarkan lagi uang Rp. 2 juta dan diberikannya ke bapak supir tsb.
_"Ini buat anak istri dirumah ya, salam buat keluarga"._ sambil beranjak keluar dari mobil.
Tiba² bapak supir keluar dari mobilnya dan menyusul Ust. Uyad.
_"Masyaa Allah pak, ini kebanyakan"_ sambil menyodorkan kembali uang tsb.

_"Oh gak papa, kebetulan saya lagi ada titipan rezeki dari Allah dan saya mau sedekah sama orang yang Ahli Sedekah, senang ketemu sama bapak. Tolong jangan dikembalikan. Berilah kesempatan Allah mencatat sebuah Amal Jariyah buat saya"._ Jawab Ust. Uyad.
Dengan mata yang berkaca², pak supir menerima uang tersebut sambil memeluk Ust. Uyad. Mereka berpisah dan suasana haru itupun berlalu. Sebagaimana detik yang lari meninggalkan waktu.

Pada tahun 2016, di suatu malam, Ust. Uyad sedang bersilaturahmi dengan teman²nya di lobby hotel jw mariot, ketika asik ngobrol, tiba² datang office boy menghampirinya sambil menyerahkan sebuah amplop.
_"Apa ini?"_ tanya Ust. Uyad, _"Tak tau pak, saya disuruh sama bapak² diluar tadi, itu titipan dari dia pesannya, supaya diserahkan ke bapak",_ jawab office boy. _"Bapak yang mana?"_, tanya Ust. Uyad. _"Wah, saya juga gak kenal pak, orangnya diluar sana pak"_ jawab office boy.
Melihat kejadian itu, salah satu teman Ust. Uyad yang kebetulan berdinas di kepolisian memberi saran untuk segera membuka amplop tersebut dan ternyata didalamnya berisi uang US 2000 dollar.
Dalam kondisi keheranan dan terkejut, muncul rasa penasaran dan curiga, jangan² uang ini diberikan sebagai jebakan, akhirnya Ust. Uyad berlari keluar hotel meninggalkan temannya di lobby.
_"Mana bapak yang ngasih amplop ini?"_ tanyanya kembali ke office boy yang menyerahkan amplop tadi. _"Itu pak, bapak itu masih diluar"._
Dengan setengah berlari, Ust. Uyad akhirnya menemukan bapak yang ditunjuk ob tadi _"Pak, maaf ya, bapak yang ngasih amplop ini? Apa maksudnya? bapak siapa?"_ tanyanya dengan nada agak meninggi karena beliau takut sedang menerima jebakan dari seseorang.
_"Iya saya pak, saya memang udah lama mencari bapak, saya supir taksi yang pernah nganterin bapak dulu ke bandara, masak bapak lupa?"_
_"Waduh maaf pak, mana saya inget, saya sering naek taksi"_ jawab Ust. Uyad penasaran.
_"Saya supir taksi yang 2 tahun dulu pernah bapak kasih uang Rp 2 juta"._
_"Masyaa Allah maaf pak, saya bener2 gak inget"._
_"Saya yang pernah anter bapak dari Lebak Bulus ke terminal 1B pas bapak mau ke Bangka Belitung"._
Ust. Uyad mulai mengingat kejadian 2 tahun yang lalu.
_"Terus terang pak, saat itu saya memang sedang membutuhkan uang sebanyak itu untuk bayar kontrakan yang jatuh tempo. Hari itu juga sama saya harus bayar sekolah anak saya. Dan saya tidak tau lagi kemana harus saya cari uang sebanyak itu. Jadi ketika bapak kasih Rp 2 juta itu saya kaget sampe nangis. Saya berterima kasih sekali sama bapak"._
_"Masyaa Allah pak, maafkan saya, saya baru ingat, Lagian itu kejadian 2 tahun yang lalu. Trus ini kenapa kok bapak ngasih sebanyak ini?"._
_"Saya cuma ingin berterima kasih saja sama bapak, Alhamdulillah pak sekarang saya sudah bekerja di perusahaan konsultan teknik untuk proyek²"._
_"Masyaa Allah pak, ya udah pak saya terima tapi ini kebanyakan"_ sambil bermaksud menyerahkan amplop itu kembali, namun ditolak..
_"Ma'af pak, tolong diterima pak, jangan dikembalikan, berilah kesempatan Allah mencatat sebuah Amal Jariyah buat saya"._
*Pelukan dan air mata mengiringi haru pertemuan kembali dua hamba yang saling mencintai karena Allah.*
Terima kasih kepada Ust Uyad yang telah memberikan izin kepada saya untuk menuliskan kembali kisah nyata ini.
@surabaya

Allah berfiman : _Barangsiapa membawa Amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat Amalnya. Dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)..._ (QS. Al An'am : 160)

.
Boleh di SHARE sebanyak mungkin!!

Sumber : Pak Darnoto & Forum ASN Puskesmas Kabupaten Cilacap

Sabtu, 22 Agustus 2020

TAWAKKAL SEBAGAI PENYEMBUH THIYARAH

*TAWAKKAL SEBAGAI PENYEMBUH THIYARAH*

*اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ*

  _"Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya."_
 *(HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad No. 909, Abu Dawud No. 3910 dan At-Tirmidzi No. 1614)*

 ☪ Hadits diatas menegaskan bahwa *thiyarah* (merasa sial karena sesuatu) termasuk syirik, dia menafikan kesempurnaan tauhid, karena orang yang menganggap sesuatu akan membawa sial atau celaka, maka keyakinan seperti ini jelas menyalahi  taqdir (ketentuan) Allah Swt.

 ☪ Thiyarah merupakan akidah zaman Jahiliyah, sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Fir’aun merasa sial karena kehadiran Musa AS. beserta pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara Musa.

🌙 *Allah Swt berfirman :*
  _Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata :_  
 _"Itu adalah karena (usaha) kami."_
 _" Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya."_ 
 _" Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."_
 *(QS. Al A’raf/7 Ayat : 131)*

 ☪ Setelah Islam datang, maka Rasulullah Saw. melarang" thiyarah" dan sangat mencela pelakunya. Islam mengembalikan segala permasalahan kepada sunatullah (ketentuan-ketentuan Allah)  yang pasti dan bertawakkal kepada kekuasaan-Nya yang mutlak. 

🌙 *Allah Swt. berfirman :*
  _"Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya)."_
 *(QS. Ath Thalaq/65, Ayat : 3*

 ☪ Kita dilarang untuk
 menuduh kesialan itu karena  tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak. Buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan tawakkal pada Allah Swt.

 🌙 *Syekh Sholeh Al Fauzan berkata :* 
  _"Penyembuh dari "thiyarah" adalah dengan bertawakkal pada Allah. Kemudian  meninggalkan anggapan sial dan tidak memiliki keraguan lagi dalam hati."_

 ☪ Jauhkan perasaan sial karena sesuatu secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu, sebagaimana anggapan sial dibulan Shafar. Kalau di negeri kita, yang terkenal adalah beranggapan sial dengan bulan Suro, maka itu pun sama terlarangnya.

🌙 *Dari Abu Hurairah Ra,  bahwa Rasulullah Saw. bersabda :*
 _"Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar."_
  *(HR. Bukhari No. 5757 dan Muslim No. 2220)*

 ☪ *Ketika kita mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, dianjurkan untuk berdo'a :*

*اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ*

 _"Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali Engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan-Mu."_
 *(HR. Abu Daud)*

*Allahumma Aamiin*

*SEMOGA MANFAAT*

*Sumber :*
1. assunnah-qatar.com
2. almanhaj.or.id
3. rumaysho.com

Sabtu, 09 Mei 2020

Perbedaan Antara Maghfirah Dengan 'Afuw

Perbedaan Antara Maghfirah Dengan 'Afuw

Maghfirah adalah hak Allah untuk mengampuni kita atas segala dosa-dosa kita (dosa kecil, karena dosa besar hanya diampuni dengan taubat -red), tetapi dosa-dosa tersebut akan tetap tercatat di dalam buku amalan kita selama di dunia.

Maghfirah adalah ampunan Allah atas dosa-dosa kita, tetapi di Hari Pembalasan kelak, dosa-dosa tersebut tetap tertulis di dalam rapor kita. Allah akan menanyai kita tentang dosa-dosa tersebut, tetapi Allah tidak akan menghukum kita karenanya

'Afuw adalah hak Allah untuk mengampuni dosa-dosa kita, lalu menghapusnya dari buku catatan amal kita selama di dunia. Seolah-olah, kita tidak pernah melakukan dosa-dosa tersebut. 'Afuw adalah ampunan Allah atas dosa-dosa kita, yang lalu dosa-dosa tersebut akan dihapus secara total dari rapor kita, dan Allah tidak akan menanyai kita tentang dosa-dosa tersebut di Hari Pembalasan

Itulah kenapa Rasulullah (ﷺ) memerintahkan kita untuk membaca doa berikut di bulan Ramadhan, terutama pada malam Laylatul Qadr :

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni

(Ya Allah, Engkaulah Satu-satunya yang Maha Pengampun, dan Engkau suka memberi ampunan. Maka dari itu, ampunilah aku),
(HR Ahmad, Ibn Majah, dan Tirmidhi)

Jadi, pastikan kita senantiasa membaca doa tersebut sepanjang waktu, sebanyak mungkin. Jadikan ia sebagai dzikir harian kita. Bayangkan juga bahwa nanti ketika diri kita sedang berdiri di Hari Pembalasan, dimintai pertanggung jawaban atas segala amal perbuatan kita, dan kita tidak memiliki jaminan untuk memasuki Jannah-Nya. Tiba-tiba, kita mendapati bahwa kita memiliki bergunung-gunung Hasanat (pahala) di dalam rapor kita.

Tahukah kita dari mana pahala yang begitu banyak tadi datang?

Karena ketika di Dunia, kita terus-menerus mengucapkan, "SubhanAllah wa bihamdihi, SubhanAllah al 'Azhiim."

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda, "Dua kalimat yang ringan di lidah, tetapi berat timbangannya. Keduanya begitu disukai oleh Arrahman (Maha Pengasih) :

سُبْحَانَ اللّهِ وَ بِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللّهِ الْعَظِيمِ

SubhanAllahi wa biHamdihi, Subhan-Allahi 'l-`azhiim
(Mahasuci Allah, dengan segala pujian dan kesucian hanya teruntuk bagiNya, Yang Mahabesar)
(HR Bukhari, Muslim).

Bayangkan betapa banyak pula pahala yang akan dilipat gandakan jika kita membagikan ilmu ini, ilmu tentang keutamaan berzikir mengingat Allah. Betapa banyak yang akan mengucapkannya, dan kita akan mendapat aliran pahala dari mereka yang mengamalkannya setelah mengetahuinya dari kita.

"Siapa saja yang menunjuki orang lain pada kebaikan, baginya pahala yang sama dengan mereka yang melakukannya,"
(HR Muslim).


Wallahua'lam bish shawaab

Kamis, 07 Mei 2020

L E L A K I - L A N G I T

*_Kisah inspiratif menggugah hati_*

*L E L A K I - L A N G I T*

Tiba2 aku terbangun. Ketika jarum jam menunjuk angka 2.34 pagi. Setengah mengantuk aku bergegas ke kamar kecil.

Enam detik kemudian aku terpaku heran. Sdh ada ibu berdiri di depanku. Kenapa ibu ada di sini? Bukankah almarhumah sdh lama meninggalkan kami. Rasa kantung kemih penuh mendadak hilang ditelan bumi. Seorang lelaki yg tak kukenal berdiri di samping ibu. Badannya kurus, wajahnya tirus.

“Mas Bagus, ibu njaluk tulung yo.
(Ibu minta tolong). Kalau umroh titip ini", ujar ibu dg logat Jawanya yg kental sambil menunjuk lelaki di sampingnya.

“Nggih Bu. Tapi nuwun sewu, niku sinten toh?” (iya bu, tapi maaf itu siapa) tanyaku heran. Ibu tidak menjawab.

Lelaki itu kupandangi kemudian.

IMRUL. 
Aku melihat itu di atas saku kemejanya. Di bawahnya ada berderetan angka. Jelas sekali semuanya terbaca.

*Tiba2 aku terbangun & mengerjapkan mata.*

“Mas Bagus mimpi lagi ya?” ujar istriku lembut sambil membelai kepalaku.

Jantungku berdegup keras.

“Ini sudah 3 kali mimpi yg sama,” ujarku sambil bergegas pergi ke kamar kecil. Jarum jam 4.34 pagi. Adzan Subuh berkumandang.

***

Sopirku Pak Sanusi, mendengus pelan di belakang kemudi. Jakarta padat merayap malam hari ini. Duduk di kursi belakang, aku sibuk dg MacBook Pro menyelesaikan laporan audit tahunan yg hampir jatuh tempo. Saat Pak Sanusi meliukkan Toyota Camryku, aku jadi teringat pd mimpi semlm.

Almarhumah ibu & Ielaki yg tak pernah aku jumpa. Kemeja bertuliskan Imrul & sederetan angka.

Mungkinkah deretan angka itu nomor handphone? 
Apakah lelaki itu namanya Imrul?

Suara nada tunggu digantikan ucapan salam terdengar dari seberang sana, saat aku coba hubungi nomor tsb. Suara perempuan.

*“Apa saya bisa berbicara dg Pak Imrul?”*, tanyaku sedikit ragu.

Hening tak ada jawaban smp bbrp menit kemudian.

*“Assalamu’alaiku, Iya ini dg Imrul,”* suara lelaki sopan.

Degh !! Ini pasti cuma kebetulan, dan jantungku berdegup keras.

Tak ingin berlama-lama di telepon, malam itu aku menyambangi rumah Imrul, lelaki kurus berwajah tirus tsb. Usianya sekitaran 30 plus-minus.

Kami lesehan di atas lantai semen yg sebagiannya retak, di ruang tamu sebuah rumah petak.

*“Panggil Mas Imrul saja,”*
 ujarnya sopan. Aku tersenyum bercampur heran. Dari wajahnya, memang dialah lelaki yg ada dlm mimpiku itu.

*“Kalau boleh tahu, Bpk dapat nomor telepon ini dari mana?”*

Dan berceritalah aku tentang mimpi aneh yg berulang 3 kali itu. Mas Imrul diam. Wajahnya makin tirus mirip kucing restoran berharap makanan.

*“Apa sampeyan pernah bertemu almarhumah ibu saya?”* 
tanyaku sambil menyodorkan foto almarhumah di Instragram-ku. 
Tak perlu waktu lama buatnya untuk berkata *tidak*. 
Aku menggaruk kepala.

*“Mas, kalau bukan karena almarhumah ibu, saya tdk akan pedulikan mimpi itu”*, 
ujarku pelan sambil memegang pundaknya. 
*“Saya ingin mengajak Mas Imrul pergi umroh.”*

*“Tapi saya ini mantan napi Pak. Belum sebulan bebas,”* 
ujar Mas Imrul ragu. Sptnya dia tdk percaya dg ucapanku / ajakanku umroh.

Bulu tengkuk di leherku berdesir aneh.

***

*“Sampeyan dulu kenapa masuk penjara?”* tanyaku, duduk di samping Mas Imrul yg sdg terpesona. Seumur hidupnya dia baru pertama kali naik pesawat sebesar ini. Perjalanan 9 jam di kelas bisnis Jakarta - Jeddah, mubazir rasanya kalau tdk mencari tahu tentang dia. Lelaki biasa, mantan narapidana ini.

*“Sebelum masuk bui, kerja saya sbg satpam. Belum setahun, kantor yg saya jaga kerampokan. Teman sesama satpam, ternyata berkomplot. Dua hari sesdh kejadian, semua pelakunya diringkus polisi. Di pengadilan, teman itu berbohong kalau saya ikut terlibat. Padahal, waktu kejadian malam itu saya diikat di toilet. Hakim lebih percaya dia, akhirnya saya dipenjara. Vonisnya dua tahun,”* ujar Mas Imrul.

Aku menghela nafas.

*“Sebenarnya, yg bikin saya sedih bukan itu Pak,”* 
sambung Mas Imrul. Air matanya sedikit meleleh.

*“Lalu apa Mas?”* tanyaku penasaran.

“Saya gundah & khawatir. Kalau saya di penjara, siapa nanti yg akan merawat ibu. Saya anak satu-satunya. Apalagi ibu sdh lama lumpuh & tdk bisa melihat. Setiap hari saya menyuapi & memandikannya. Biar gaji kecil, setiap bulan saya selalu cukupkan membeli susu Ibu. Biar ibu tetap sehat.” Kali ini bulir air matanya mulai berjatuhan.

*Duh Gusti Allah, ternyata aku jauh dibanding Mas Imrul. Waktu almarhumah ibu dirawat di rumah sakit menjelang wafatnya, aku malah sibuk persiapan rapat pemegang saham perusahaan. Astaghfirullah.*

“Terus siapa yg mengurus ibunya Mas Imrul?” tanyaku sembari mengelap mata. Tak terasa aku ikutan menangis juga.

“Saya minta tolong Mbak Yuni, saudara jauh dari kampung. Itu lho, perempuan yg menerima telepon Pak Bagus tempo hari. Kebetulan saya masih ada sedikit tabungan, jadi semua uangnya dipakai buat mengurus ibu selama saya di penjara. Dia yg mengurus ibu semenjak itu. Saya minta dia datang tiap hari ke penjara, menceritakan kondisi ibu. Kalau Mbak Yuni datang & cerita ttg Ibu, hati saya lega rasanya. Hati selalu was-was kalau Mbak Yuni datangnya telat, khawatir ada apa-apa pd Ibu.”

Aku cuma menunduk. Malu pd lelaki di sampingku ini. Jabatanku  mentereng, gaji ratusan juta, tp tak bisa dibandingkan dg ketulusan Mas Imrul dlm merawat ibunya. *Gusti Allah, apa yg Engkau mau dari pertemuan aku dg lelaki sholeh ini?* Biar aku sadar kesalahanku? Bukankah percuma krn almarhumah sdh tiada?

*“Baru 6 bulan di penjara, Mbak Yuni kapan itu gak datang dua hari Pak”*, Mas Imrul melanjutkan ceritanya. *“Saya was-was. Ternyata Ibu saya meninggal dunia Pak. Sedihnya lagi, Pak sipir penjara nggak ngebolehin saya keluar sebentar buat nyekar ke makam. Saya cuma bisa nangis di penjara Pak. Mohon ampun sama Allah.”*

Air mataku menderas. *Duh Gusti Allah, cobaan hidup lelaki ini ternyata berat. Aku belum tentu kuat menjalaninya.*

*“Mas Imrul kan vonisnya 2 th. Kenapa bisa bebas lebih cepat?”* tanyaku sambil menyeka air mata.

*“Oh, kalau itu krn kasus saya diperiksa kembali sama polisi dan pengadilan Pak,”* ujarnya sambil ragu mengambil kain hangat yg disodorkan awak kabin.

*“Setelah sidangnya diulang, terbukti saya memang tdk bersalah. Teman yg berkomplot itu akhirnya berterus terang,”* ujar Mas Imrul pelan. *“Sebetulnya saya sdh memaafkan teman itu. Sejak pertama kali difitnah.”*

“Sejak pertama kali sdh memaafkan?” tanyaku tambah heran.

*“Iya Pak Bagus. Kalau ada orang memfitnah, buat saya cuma dua. Kalau fitnah itu benar, maka saya mohon ampun sama Allah. Tapi kalau fitnah itu salah, maka saya maafkan & mohon ampunkan dia dari kemurkaan Allah,”* ujarnya datar.

*Degh !! Aku langsung teringat fitnah yg menimpaku setahun yg lalu. Aku dituduh memanipulasi laporan pajak perusahaan. Si penuduh berhasil aku sikat habis di pengadilan. Aku beruntung dpt pengacara yg handal, tapi sekarang aku menyesal. Mengapa sepertinya kata maaf tdk pernah ada dlm kamus hidupku selama ini.*

*Ternyata lelaki ini bukan orang biasa. Mas Imrul, seorang satpam mantan narapidana, tdk terkenal di bumi, tapi terkenal di langit. Inilah lelaki langit yg semua malaikat pencatat kebaikan pasti mengenalnya.*

***
Tiga hari di Mekkah kami menginap di Royal Clock Tower. Aku & Mas Imrul menghabiskan seluruh hari penuh dg ibadah. Tak cuma itu. Ada yg spesial di umrah kali ini & itu semua krn Mas Imrul. Aku biasa telat sholat fardhu, lalu sholat berjamaahnya cuma di dekat hotel. Tapi tdk saat bersama Mas Imrul. *Kami selalu berada di shaf depan, melihat langsung Ka’bah. Aku belum pernah mencium hajar aswad pdhl umrah berkali-kali, tapi tdk saat bersama Mas Imrul. Badannya yg kurus justru berhsl membawaku mencium batu hitam itu berkali-kali sepuasnya. Kami juga sholat di hijir Ismail & lama berdo’a di Multazam, antara hajar aswad & pintu Ka’bah. Semuanya lancar tanpa halangan.*

Mas Imrul terlihat sangat menikmati perjalanan umroh ini. Dlm benakku, kalau pulang nanti dia akan aku pekerjakan sbg satpam di rumahku.

Hari keempat kami berangkat ke Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawaroh. Dlm bis VIP Mas Imrul lebih banyak diam & berdzikir.

*“Kalau saya perhatikan, Mas Imrul tak pernah kelihatan susah,”* ujarku sambil memiringkan sedikit badan ke arahnya.

*“Allah yg membolak-balikkan hati Pak,”* ujarnya datar. *“Maka mintalah itu pada-Nya. Kalau kita menjaga Allah, kita pun akan dijaga-Nya.”*

*“Maksudnya menjaga Allah itu bagaimana Mas?”*

*“Jaga Allah dg menyempurnakan hari,”* ujar Mas Imrul serius.

*“Maksudnya bagaimana Mas?”*

*“Hari yg sempurna itu diawali dg bangun malam. Sholat tahajjud & witir. Minimal 2 plus 1. Lalu Dhuha minimal 2, dan sholat rawatib yg jmlhnya 12 raka’at. Utamanya sholat sunnah fajar sebelum subuh. Selalu sholat wajib berjama’ah di masjid. Membaca Al-Qur’an minimal 1 juz setiap hari. Senin-Kamis puasa sunnah. Itulah hari yg sempurna.”*

*Aku hanya terpana. Mobil camry & rmh mewah hasil jerih payahku, jadi spt harta tak bermakna.*

Sampai di Madinah, setelah sholat ashar di masjid Nabawi, kami berdesakan menuju Rawdhah. Area khusus dg karpet hijau itu memang jadi rebutan para jama’ah. Kami menunggu giliran dg sabar, berdiri di belakang pembatas putih. Ketika petugas masjid membukanya, serentak setengah berlari kami menuju pojok paling dekat dg tembok di sebaliknya makam Rasulullah ﷺ

*“Mas, ayo cepat sholat di sini. Perbanyak istighfar, shalawat & do’a. Ini salah satu tempat yg paling mustajab buat berdo’a,”* ujarku sambil bersiap-siap sholat. Di sampingku Mas Imrul dg khusyu’ mendirikan sholat sunnah. Selesai sholat, aku duduk berdo’a di sampingnya yg masih berlama-lama sujud. Area rawdhah sdh sesak dipenuhi jama’ah.

Tak smp 10 menit kemudian, muncul petugas masjid menyuruh kami segera pergi. Waktu sdh habis. Sekarang giliran jama’ah lainnya yg sdh menunggu di balik pembatas putih. Aku melihat Mas Imrul masih sujud. Petugas masjid menepuk pundak-ku, menyuruh kami segera pergi. Entah do’a apa yg dipanjatkan Mas Imrul, mengapa begitu lama.

*Aku mengguncang halus punggungnya. Badannya terguling lemah. Mas Imrul telah tiada. 
Wajah tirusnya tersenyum damai. Dia meninggal dlm keadaan terbaiknya. Husnul khotimah saat sujud di Rawdhah, *taman surga.* 
Badanku lemas. 
Jantungku berdegup kencang. 
*Lelaki langit telah kembali kepada Rabb-nya.*

***
Aku duduk sendiri di kelas bisnis. Penerbangan Jeddah - Jakarta terasa lengang. Baru saja aku terlelap di kursi, suara awak kabin membangunkan para penumpang untuk makan malam, 6 detik kmdn aku terduduk diam. Kenapa ibu yg membangunkanku? Ibu kan sdh meninggal.
j
*“Mas Bagus, suwun yo!,”* ujar ibu dengan logat Jawanya yg kental & senyum khasnya......

(Hendra Suryakusuma) 
*L E L A K I - L A N G I T.*