Translate

Jumat, 28 Desember 2018

Kisah Laila al-Halwa Sembuh Dari Sakit Kanker

Kisah Laila al-Halwa Sembuh Dari Sakit Kanker

Siapa yang tidak kenal dengan Laila al-Halwa dan kisahnya?

Seorang muslimah dari Maroko yg terkena pelet ganas dan mematikan yaitu kanker.

Kepada semua yg terkena penyakit ganas ini, kepada semua yg putus asa dr harapan sembuh akibat penyakit ini, kepada siapa saja yg menginginkan kesembuhan dr kanker, kepada mereka semua dan siapapun, ingatlah kalian akan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

Allah SWT berfirman:

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ  لَهٗۤ اِلَّا هُوَ ۗ  وَاِنْ يَّمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ  قَدِيْرٌ
wa iy yamsaskallohu bidhurrin fa laa kaasyifa lahuuu illaa huw, wa iy yamsaska bikhoirin fa huwa 'alaa kulli syai`ing qodiir

"Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 17)

Gambaran dr ayat ini terlihat jelas dalam kisah Laila al-Halwa. Berikut penuturannya:

Sudah 9 THN sy menderita penyakit ganas dan mematikan yaitu kanker. Saat itu keimanan kita kepada Allah sangat lemah. Sy jauh dr Tuhan dan Syari'at-Nya. Waktu itu sy menganggap bahwa kecantikan wanita akan terus abadi seoanjan hidupnya, demikian pula dgn kemudaan dan kesehatannya. Sy pun tdk pernah menyangka sama sekali bahwa sy akan terkena kanker yg ganas dan mematikan.

Ketika terkena penyakit ini sy  sangat shock. Kadang sy berpikir untuk lari, akan tetapi kemana? Karena penyakitku akan selalu bersamaku dimana pun sy berada. Kadang pula sy berfikir utk bunuh diri, akan tetapi begitu teringat dgn suami dan anak2nya, sy pun menjadi kasihan terhadap mereka. Tidak terbesit dalam pikiranku bahwa Allah akan menghukumku jika aku bunuh diri, karena sebagaiman yg telah kukatakan sebelumnya bahwa saya lalai dan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ternyata Allah hendak memberiku hidayah melalui penyakit ini dan juga kepada banyak orang. Maka kesembuhanku pun diatur olehNya secara perlahan-lahan.

Ketika terkena penyakit ini, aku pergi ke Belgia dan berkonsultasi dgn banyak dokter disana. Kata mereka kepada suamiku, "Payudara istrimu harus dipotong, kemudian rambut-rambut yg ada di tubuhnya harua dihilangkan, termasuk bulu mata dan alis, kuku dan giginya harus dipotong dan dilepas."

Semua saran dokter kutilang dgn tegas, "Saya lebih suka mati dgn payudara yg utuh dan rambut yg utuh pula serta semua yg diciptakan Allah pada tubuhku."

Kemudian aku meminta obat ringan dan mereka pun memberikannya.

Kami pun kembali ke Maroko dan menggunakan obat yg dikasih sang Dokter, akan tetapi tidak berpengaruh apa-apa. Mulanya aku gembira dan mengatakan, Mungkin dokter salah prediksi dan aku tidak terkena penyakit kanker."

Akan tetapi setelah 6 bukan aku merasa berat tubuhku berkurang, warna kulitku berubah dan sering merasa sakit-sakitan. Akhirnya dokter langgananku di Maroko menyarankan agar aku kembali ke Belgia untuk berrobat.

Dokter mengatakan kepada suamiku, bahwa mereka menyerah karena tidak mempunyai obat lagi untuk penyakitku. Kata mereka kepada suamiku, "lebih baik kamu bawa kembali isterimu ke Maroko agar ia meninggal di sana."

Suamiku sangat kaget mendengarnya dan kami tidak langsung pulang ke Maroko, akan tetapi pergi Perancis utk mencari obat disana. Akan tetapi hasilnya pun sama dan kami tdk menemukan apa-apa. Akhirnya kami pasrah dan meminta bantuan kepada seseorang untuk masuk rumah sakit guna melakukan pengobatan yaitu motong payudara dan menghilangkan rambut-rambut di tubuh dan lain sebagainya.

Akan tetapi suamiku teringat sesuatu yg telah lama kami lupakan sepanjang hidup kami. Allah telah memberi Ilham kepada suami agar kami pergi ke Mekkah untuk mengunjungi Ka'bah guna memohon kepada Allah agar penyakitku bisa sembuh. Dan akhirnya kami pun pergi kesana.

"Kamipun tiba di Masjidil Haram. Ketika masuk dan melihat Ka'bah, aku menangis tersedu-sedu karena mengingat banyaknya dosa yang telah kulakukan. Aku teringat begitu banyak kewajiban yang telah kutinggalkan sehingga aku mengatakan, "Ya Rabbi, akutelah berusaha semaksimal mungkin dengan berobat kepada dokter, sekarang tidak ada yang kumohon selain kepada-Mu. Karena itu janganlah Engkau tutup pintu taubat untukku."

Aku melakukan tawaf dan memohon kepada Allah agar tidak menyia-nyiakanku. Aku memohon agar diberi kesembuhan supaya para dokter heran dan kaget dengan hal tersebut.

Sebagaimana yg telah ku jelaskan sebelumnya, bahwa aku lalai kepada Allah dan tidak mengerti agamaNya. Maka aku pun mengunjungi Syekh dan Ulama yg berada di sana untuk minta doa-doa ringan yang bisa kuhapal. Mereka menyarankan agar aku banyak membaca Al-Qur'an dan meminum air zam-zam. Mereka juga menasehatiku agar banyak berdzikir dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam.

Aku merasa tenang dan tentram berada di tanah haram. Aku pun meminta ijin kepada suamiku agar diperbolehkan tinggal di Masjidil Haram dan tidak pulang ke hotel. Setelah diberi ijin aku selalu berada di Masjidil Haram untuk berdzikir dan beribadah.

Di Masjid aku ditemani banyak wanita yg melihatku sering menangis. Mereka pun menanyakan kepadaku tentang sebab tangisku, dan aku menjawab, "Karena aku telah berada di Masjidil Haram dan aku tidak menyangka sama sekali akan begitu mencintainya. Kedua karena aku terkena penyakit kanker dan menginginkan kesembuhan."

Mereka tetap menemaniku dan tidak meninggalkanku. Aku katakan kepada mereka bahwa aku sedang ber'itikaf di Masjidil Haram, maka mereka pun meminta ijin kepada suami mereka agar diperbolehkan untuk ber'itikaf bersamaku. Di masjid aku tidak tidur dan tidak makan kecuali sedikit, akan tetapi aku banyak meminum air zamzam, mengingat Nabi shalallahu'alaihi wasallam bersabda, "Air zam-zam adalah tergantung untuk apa ia diminum (sesuai dengan niat orang yang meminumnya)".

Jika ia diminum utk penyembuhan, maka Allah akan menyembuhkan penyakit tersebut. Jika diminum karena haus, maka Allah akan menghilangkan dahaga tersebut. Dan jika diminum dalam rangka mohon pertolongan kepada Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan-Nya.

Berkat meminum air zamzam aku tidak merasa haus. Aku terus melakukan thawaf tanpa henti dan menunaikan shalat dua rakaat. Begitulah yang kulakukan sehari-harinya: thawaf, shalat, membaca Al-Qur'an, dan meminum air zamzam. Aku juga jarang tidur kecuali sebentar saja.

Kondisiku semakin lemah dan kurus dan bahan atas tubuhku membengkak dan banyak muncul benjolan-benjolan (tumor). Hal ini semakin memperkuat bahwa penyakitku telah menyebar di bagian atas tubuhku. Teman-temanku menyarankan agar bagian yang membengkak tersebut dibasuh dgn air zamzam, akan tetapi aku tidak mau memegang bengkak dan benjolan tersebut karena takut akan memalingkanku dari dzikir dan ibadah kepada Allah. Akhirnya aku hanya membasuhnya tanpa menyentuh bagian tubuh yang bengkak tersebut.

Pada hari kelima teman-temanku mendorongku agar aku membasuh tubuhku dgn air zamzam. Mulanya aku menolaknya, akan tetapi seakan-akan ada kekuatan yang mendorongku untuk melakukan hal tersebut. Memang awalnya aku merasa takut, tetapi kemudian muncul dorongan tersebut dan utk yg kedua ini aku merasa ragu. Hingga utk ketiga kalinya seakan-akan ada kekuatan yg mendorongku utk mengambil air zamzam dan membasuhkannya ke tubuhku dan payudaraku yg penuh dgn darah dan nanah serta benjolan. Tiba-tiba terjadi hal menakjubkan yg sama sekali tidak terbayangkan dalam pikiranku, yaitu seluruh bengkak dan benjolan tersebut hilang dari tubuhku tanpa tersisa sedikitpun. Aku pun tidak lagi merasa sakit, tidak ada lagi darah dan nanah di tubuhku.

Mulanya aku sangat kaget. Akupun memasukkan tanganku ke dalam bajuku utk memastikan apakah masih ada benjolan dan bengkak di tubuhku, akan tetapi aku tidak menemukan apa-apa. Aku agak takut ketika itu, akan tetapi kemudian aku teringat bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kemudian aku meminta kepada salah seorang temanku agar memegang tubuhku dan mencari benjolan dan bengkak tersebut, ternyata benar bahwa semuanya telah hilang dr tubuhku.ereka pin menjerit histeris seraya berucap "Allahu Akbar, Allahu Akbar".

Selanjutnya aku segerapergi menemui suamiku utk mengabarkan kesembuhanku. Begitu masuk hotel dan berada di hadapannya, aku langsung menyobek bajuku seraya berkata, "lihatlah Rahmat Allah".

Kuceritakam semua yg terjadi kepadanya. Tetapi ia tdk mempercayainya. Ia menangis dan menjerit seraya berkata, "Tahukah kamu bahwa dokter mengatakan bahwa kematianmu tinggal tiga Minggu lagi?"

Kukatakan kepadanya, "Ajal dan latihan hanyalah di tangan Allah, dan tidak ada yang mengetahui hal ghaib selain Allah".

Tutur Laila al-Halwa selanjutnya, Kami tinggal di Masjidil Haram selam seminggu. Kami memuji Allah dan bersyukur atas nikmatNya yang tiada terhingga. Kemudian kami mengunjungi Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah, lalu kembali ke Perancis. Para Dokter di sana terheran-heran dengan keadaanku dan sangat bingung. Mereka menanyakan kepadaku, "Apakah Anda wanita yang pernah berobat kepada kami?"

Dengan mantap dan percaya diri kujawab, "Ya, akulah orangnya dan inilah suamiku. Aku telah kembali kepada Tuhanku, dan aku tidak takut apapun kecuali kepada-Nya. Semua yang terjadi adalah takdir dan kehendak-Nya."

Para dokter mengatakan, "Kondisi Anda sangat aneh dan mengherankan, semua bengkak dan benjolan telah hilang, karena itu perlu diadakan pemeriksaan ulang."

Ketika mereka memeriksa dan meneliti tubuhku, mereka tidak menemukan apa-apa dan penyakitku benar-benar telah sembuh total. Sebelumnya aku tidak bisa bernafas karena benjolan dan bengkak tersebut, akan tetapi ketika tiba di Masjidil Haram dan mohon kesembuhan kepada Allah, semuanya hilang dari tubuhku.

Setelah itu aku mulai membaca buku-buku sejarah Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam dan para Sahabatnya -radhiyallahu 'anhuma-. Aku banyak menangis setelah itu karena mengingat dosa-dosa yang telah kulakukan di masa lalu. Aku mohon kepada Allah agar menerima taubatku dan keluargaku serta segenap kaum muslimin.

Itulah kisah Laila al-Halwa wanita muslim dari Maroko yang tidak pernah menyerah berjuang untuk sembuh dari sakit Kanker yang dideritanya. Hingga pada akhirnya Allah adakan jalan keluar dan Allah turunkan pertolongan-Nya yaitu berupa kesembuhan dari sakit panjangnya, yaitu dengan berikhtiar meminum air zamzam dan ke Mekkah untuk beribadah serta memohon kesembuhan padaNya

Dia-lah Allah...
Rabb Langit dan Bumi
Semua yang ada di langit bertasbih menyebut namaNya
Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah Azza wa Jalla
Tempat bergantung bagi seluruh makhluk
Tidak beranak dan tidak pula diperanakan
dan tidak ada yang setara dengan Dia.

Teruntuk saudara-saudaraku yang saat ini sedang Allah uji dengan sakit. Jangan berkecil hati. Sakit ini adalah Rahmat dari Allah. Sakit ini adalah tanda cinta Allah kepada hambaNya. Selalu ada hikmah dibalik ujianNya. Dan ingatlah, bahwa temannya pertolongan adalah kesabaran. Dan jalan keluar selalu ada di setiap kesempitan.

Jangan pernah berhenti untuk berdoa memohon pertolongan dan kesembuhan padaNya. Dan jangan pernah berhenti bertobat nasuha serta jangan pernah berhenti untuk berikhtiar dengan jalan-jalan syar'i yang Allah ridho dan sesuai dengan Sunnah Nabi 'alayhissholatu wassalam

Semoga kita semua yang sedang Allah uji sakit, Allah berikan jalan keluar dan kesembuhan dari sakit yang diderita. Dan lewat sakit ini pula Allah gugurkan kesalahan serta dosa yang pernah kita perbuat di masa lalu.

Dan bagi sahabat yg punya rizki lebih bisa ikhtiar sebagaimana ikhtiarnya Laila al-Halwa di atas. Allahu'alam

💌 Barakallahu Fiikum...

Sangat dianjurkan untuk disebarkan ke banyak orang. Agar mereka mendapatkan manfaat yang sama seperti anda saat ini. Semoga tercatat sebagai amal shalih

Sumber : kisah Islam.net

Sabtu, 12 Mei 2018

KESABARAN MEMBUAHKAN HASIL - ULTIMATE TAWAKAL

Kisah Nyata Dari Tanah Arab
*KOTA RIYADH TERNYATA MENYIMPAN BANYAK KISAH DAN RAHASIA YANG HANYA DIPERLIHATKAN PADA TELINGA YANG MAU MENDENGAR DAN HATI YANG MAU MERASA. TENTU SAJA HIDAYAH ADALAH KEHENDAK NYA DAN HANYA AKAN DIBERIKAN KEPADA MEREKA YANG MENCARINYA.*
-------------------------
Ada sebuah energi yang luar biasa ketika beberapa hari yang lalu kudengar cerita dari beberapa sahabatku. Mereka berasal dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka Mesir, Afrika dan Saudi Arabia . Salah satunya adalah teman dari Sudan.
Aku mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu muslim kulit hitam yang juga bekerja di hotel ini. Beberapa bulan belakangan aku tak lagi melihatnya. Biasanya ia bekerja bersama pekerja lain menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh .
Hari itu Ammar tidak terlihat, karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal .
“Oh kamu tidak tahu?” jawabnya balik bertanya dengan bahasa Inggris khas India.
“Iya, beberapa minggu ini dia tak terlihat di mushola.”
Selepas itu tanpa diduga Iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar.
Ternyata Amar datang ke kota Riyadh lima tahun lalu. Ia datang ke negeri ini dengan tangan kosong, dan nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di kota ini. Saudi Arabia memang memberikan free visa untuk negara negara Arab lainnya termasuk Sudan, maka Ammar bisa bebas mencari kerja disini asal punya pasport dan tiket.
Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal bersa,a teman temannya. Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.
Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat, bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di kota ini.
Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana kota yang garang, tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.
Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.
Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia, hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Di hampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..
Amar seperti terjerat di belantara kota ini. Pulang ke Sudan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya disana, itu tekadnya. Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.
Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.
Tapi Ammar pun manusia.
Di tahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan, tekadnya telah bulat untuk kembali berkumpul dengan keluarganya di Sudan.
Saat itu ia tidak memiliki uang meski sebatas untuk tiket pulang. Ia terpaksa menceritakan keinginannya untuk pulang kepada teman2 terdekatnya. Dan salah satu teman baik Ammar memberinya sejumlah uang untuk membeli tiket ke Sudan.
Hari itu juga Ammar berpamitan pada teman2nya, ia pergi ke sebuah agen perjalanan di Olaya- Riyadh, untuk membeli tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, negara tetangganya. Saat itu tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.
Akhirnya ia membeli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan. Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya.Tadi pagi ia tidak sarapan , siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan keadaan itu.
Adzan dzuhur bergema, semua toko toko, supermarket, bank, dan kantor pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security kota berjaga jaga di luar kantor menunggu hingga waktu shalat berjamaah selesai. Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu, membasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air. Lalu ia masuk ke dalam mesjid, shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.
Hanya disaat shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban dunia yang menghimpitnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.
Shalat telah selesai.
Ammar masih bingung kemana harus melangkah, sedangkan penerbangan masih seminggu lagi.
Dilihatnya beberapa mushaf Al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengambil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan ashar tiba menyapanya, selepas maghrib ia masih di sana. Akhirnya Ammar memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.
Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya, seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota. Ia selalu mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing. Adzannya memang khas, hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat subuh berjamaah disana. Adzan yang juga ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.
Di tiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya. Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis, Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.
Amar sudah duduk diruang tunggu bandara, tampaknya penerbangan sediikit tertunda. Ammar melamun dan kecemasan mulai menghantui dirinya. Ia harus pulang tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ia terus bekerja keras.
Namun ia memahami, inilah kehidupan dan dunia hanyalah persinggahan sementara. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta dengan mengeluh. Ia tetap berjalan walau tertatih memenuhi kewajiban sebagai Hamba Allah, dan sebagai imam dalam keluarganya.
Tiba tiba dari speaker bandara terdengar suara memanggil namanya. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba2 datang sekelompok orang berbadan tegap menghampirinya. Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”. Ammar semakin bingung ada apa Prince memanggilnya?
Kerajaan Saudi memiliki banyak Prince dan Princess (Putra dan Putri Kerajaan) , mereka tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini dan tinggal di istana masing masing.
Setiap kali Ammar adzan Prince selalu bangun dan merasa terpanggil untuk sholat. Hingga suatu hari suara Ammar beradzan tak terdengar lagi . Prince merasa kehilangan dan saat mengetahui bahwa sang muadzin pulang kenegerinya. dia langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar .
Ammar sudah tiba di istana dan Prince menyambutnya dengan ramah sambil menanyakan mengapa Ammar ingin kembali ke negerinya. Lalu ia mulai bercerita bahwa sudah lima tahun bekerja di kota Riyadh tapi tak pernah mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya di Sudan.
Prince mengangguk nganguk dan bertanya:
“Berapakah gajimu dalam satu bulan?”
Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji berbulan bulan. Prince memakluminya, lalu beliau bertanya lagi:
“Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu terima ?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun ini.
“Alhamdulilah, SR 1.400 “, jawab Ammar.
Prince langsung memerintahkan bendahara untuk menghitung 1.400 Real dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Lalu Prince menyerahkan uang tersebut kepada Ammar.
Tubuh Amar gemetar melihat keajaiban dihadapannya, belum selesai bibir mengucapkan Al Hamdalah, Prince menghampiri dan memeluknya seraya berkata:
“Aku tahu cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini, lalu kembalilah setelah 3 bulan. Saya siapkan tiket untuk kamu dan keluargamu kembali ke kota Riyadh. Jadilah Bilal di masjidku dan hiduplah bersama kami di Palace ini.“
Ammar tak dapat menahan air matanya, ia bukan terharu karena menerima sejumlah uang walau uang itu sangat besar artinya bagi keluarganya yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikan hambanya, kesabaran selama lima tahun berakhir dengan indah.Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan Ammar.
Semua berubah dalam sekejap, lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. tapi nothing imposible for Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.
Ini kisah nyata yang tokohnya masih berada di kota Riyadh, saat ini Ammar hidup cukup di sebuah rumah di dalam istana milik Prince. Ammar dianugerahi Allah hidup yang baik didunia, menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Subhanallah….seperti itulah buah dari kesabaran.
“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.
Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran, *karena Sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.* (NAI)
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
*”Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”*  (Al Fushilat 35)
Allahu akbar! Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya.
Kisah nyata yang memberi pelajaran pada kita semua. Insya Allah yg terbaik akan diberikan Allah pada mereka yang berdo'a dengan ikhlas dan terus berusaha.
*Semoga bermanfaat ...*
Dari WA grup