Translate

Minggu, 30 Agustus 2020

Indahnya Cinta Sesama Manusia Karena Allah.

Kisah Nyata :
Indahnya Cinta Sesama Manusia Karena Allah.
👇
Ini kisah nyata yang dialami Pak Ust Uyad Albantani (Uy).
Sekitar tahun 2014, beliau mendapat undangan ceramah keluar kota.
Berangkatlah beliau dari rumah menuju bandara Soekarno-Hatta dengan taksi.
Sepanjang perjalanan beliau ngobrol dengan Supir Taksi (ST);
👇
Uy: _"Ngomong², udah berapa lama nyupir taksi pak?_

ST: _"Owh belum lama pak, baru beberapa bulan saja"._

Uy: _"Ooh gitu, emang sebelumnya kerja dimana?"._

ST: _"Dulu sempat kerja di perusahaan perkapalan di Surabaya pak, kebetulan dulu pernah ambil Tehnik Mesin di ITS, trus perusahaannya bangkrut jadi saya kena PHK, lama nganggur di Surabaya akhirnya saya putuskan pindah ke Jakarta._

Uy: _"Wah, sayang sekali ya, ngomong² anak sudah berapa?"._

ST: _"Alhamdulillah sudah 4 pak, yang besar malah udah mau tamat SMA"._

Uy: _"Oh gitu, kalo boleh tau, narik taksi sehari bersih bisa dapet berapa sih...?"._

ST: _"Ya Alhamdulillah pak, kalo di rata² sehari bisa dapet 75 ribu, kalo lagi rame bisa sampe 150 ribu, dan gak tentu jugalah pak"._

Uy: _"Oh ya, tapi sebelumnya mohon maaf nih, emang segitu cukup buat anak istri?"._

ST: _"Ya insya Allah cukup pak, daripada gak ada sama sekali"._

Uy: _"Masyaa Allah, kok bisa cukup ya pak, ini di Jakarta lho?"._

ST: _"Ya kalo dihitung² sih gak cukup pak, tapi sekarang saya merasa lebih tenang pak. Alhamdulillah sekarang kerja bisa sambil ngurus masjid. Alhamdulillah juga saya masih bisa rutin sedekah,10% dari hasil naksi saya infakkan ke masjid"._

Uy: _"Ya Allah, jadi uang segitu masih dipotong lagi buat sedekah?"_.( tak terasa air matanya menetes haru).

ST: _"Iya pak, mumpung Allah lagi ngasih kesempatan saya bersedekah, dulu waktu masih jaya boro² saya mau sedekah pak. Makanya habis apa yang saya miliki. Saya bersyukur kali sekarang bisa dekat sama Allah"._

Tak terasa, mobil sudah memasuki portal menuju terminal 1B Soetta, argo menunjukkan 115 ribu lalu dibayar oleh Pak Uyad 150 ribu.
Karena rasa haru yang mendalam dari cerita supir taksi tadi, sebelum keluar dari mobil pak Uyad mengeluarkan lagi uang Rp. 2 juta dan diberikannya ke bapak supir tsb.
_"Ini buat anak istri dirumah ya, salam buat keluarga"._ sambil beranjak keluar dari mobil.
Tiba² bapak supir keluar dari mobilnya dan menyusul Ust. Uyad.
_"Masyaa Allah pak, ini kebanyakan"_ sambil menyodorkan kembali uang tsb.

_"Oh gak papa, kebetulan saya lagi ada titipan rezeki dari Allah dan saya mau sedekah sama orang yang Ahli Sedekah, senang ketemu sama bapak. Tolong jangan dikembalikan. Berilah kesempatan Allah mencatat sebuah Amal Jariyah buat saya"._ Jawab Ust. Uyad.
Dengan mata yang berkaca², pak supir menerima uang tersebut sambil memeluk Ust. Uyad. Mereka berpisah dan suasana haru itupun berlalu. Sebagaimana detik yang lari meninggalkan waktu.

Pada tahun 2016, di suatu malam, Ust. Uyad sedang bersilaturahmi dengan teman²nya di lobby hotel jw mariot, ketika asik ngobrol, tiba² datang office boy menghampirinya sambil menyerahkan sebuah amplop.
_"Apa ini?"_ tanya Ust. Uyad, _"Tak tau pak, saya disuruh sama bapak² diluar tadi, itu titipan dari dia pesannya, supaya diserahkan ke bapak",_ jawab office boy. _"Bapak yang mana?"_, tanya Ust. Uyad. _"Wah, saya juga gak kenal pak, orangnya diluar sana pak"_ jawab office boy.
Melihat kejadian itu, salah satu teman Ust. Uyad yang kebetulan berdinas di kepolisian memberi saran untuk segera membuka amplop tersebut dan ternyata didalamnya berisi uang US 2000 dollar.
Dalam kondisi keheranan dan terkejut, muncul rasa penasaran dan curiga, jangan² uang ini diberikan sebagai jebakan, akhirnya Ust. Uyad berlari keluar hotel meninggalkan temannya di lobby.
_"Mana bapak yang ngasih amplop ini?"_ tanyanya kembali ke office boy yang menyerahkan amplop tadi. _"Itu pak, bapak itu masih diluar"._
Dengan setengah berlari, Ust. Uyad akhirnya menemukan bapak yang ditunjuk ob tadi _"Pak, maaf ya, bapak yang ngasih amplop ini? Apa maksudnya? bapak siapa?"_ tanyanya dengan nada agak meninggi karena beliau takut sedang menerima jebakan dari seseorang.
_"Iya saya pak, saya memang udah lama mencari bapak, saya supir taksi yang pernah nganterin bapak dulu ke bandara, masak bapak lupa?"_
_"Waduh maaf pak, mana saya inget, saya sering naek taksi"_ jawab Ust. Uyad penasaran.
_"Saya supir taksi yang 2 tahun dulu pernah bapak kasih uang Rp 2 juta"._
_"Masyaa Allah maaf pak, saya bener2 gak inget"._
_"Saya yang pernah anter bapak dari Lebak Bulus ke terminal 1B pas bapak mau ke Bangka Belitung"._
Ust. Uyad mulai mengingat kejadian 2 tahun yang lalu.
_"Terus terang pak, saat itu saya memang sedang membutuhkan uang sebanyak itu untuk bayar kontrakan yang jatuh tempo. Hari itu juga sama saya harus bayar sekolah anak saya. Dan saya tidak tau lagi kemana harus saya cari uang sebanyak itu. Jadi ketika bapak kasih Rp 2 juta itu saya kaget sampe nangis. Saya berterima kasih sekali sama bapak"._
_"Masyaa Allah pak, maafkan saya, saya baru ingat, Lagian itu kejadian 2 tahun yang lalu. Trus ini kenapa kok bapak ngasih sebanyak ini?"._
_"Saya cuma ingin berterima kasih saja sama bapak, Alhamdulillah pak sekarang saya sudah bekerja di perusahaan konsultan teknik untuk proyek²"._
_"Masyaa Allah pak, ya udah pak saya terima tapi ini kebanyakan"_ sambil bermaksud menyerahkan amplop itu kembali, namun ditolak..
_"Ma'af pak, tolong diterima pak, jangan dikembalikan, berilah kesempatan Allah mencatat sebuah Amal Jariyah buat saya"._
*Pelukan dan air mata mengiringi haru pertemuan kembali dua hamba yang saling mencintai karena Allah.*
Terima kasih kepada Ust Uyad yang telah memberikan izin kepada saya untuk menuliskan kembali kisah nyata ini.
@surabaya

Allah berfiman : _Barangsiapa membawa Amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat Amalnya. Dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)..._ (QS. Al An'am : 160)

.
Boleh di SHARE sebanyak mungkin!!

Sumber : Pak Darnoto & Forum ASN Puskesmas Kabupaten Cilacap

Sabtu, 22 Agustus 2020

TAWAKKAL SEBAGAI PENYEMBUH THIYARAH

*TAWAKKAL SEBAGAI PENYEMBUH THIYARAH*

*اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ*

  _"Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya."_
 *(HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad No. 909, Abu Dawud No. 3910 dan At-Tirmidzi No. 1614)*

 ☪ Hadits diatas menegaskan bahwa *thiyarah* (merasa sial karena sesuatu) termasuk syirik, dia menafikan kesempurnaan tauhid, karena orang yang menganggap sesuatu akan membawa sial atau celaka, maka keyakinan seperti ini jelas menyalahi  taqdir (ketentuan) Allah Swt.

 ☪ Thiyarah merupakan akidah zaman Jahiliyah, sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Fir’aun merasa sial karena kehadiran Musa AS. beserta pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara Musa.

🌙 *Allah Swt berfirman :*
  _Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata :_  
 _"Itu adalah karena (usaha) kami."_
 _" Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya."_ 
 _" Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."_
 *(QS. Al A’raf/7 Ayat : 131)*

 ☪ Setelah Islam datang, maka Rasulullah Saw. melarang" thiyarah" dan sangat mencela pelakunya. Islam mengembalikan segala permasalahan kepada sunatullah (ketentuan-ketentuan Allah)  yang pasti dan bertawakkal kepada kekuasaan-Nya yang mutlak. 

🌙 *Allah Swt. berfirman :*
  _"Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya)."_
 *(QS. Ath Thalaq/65, Ayat : 3*

 ☪ Kita dilarang untuk
 menuduh kesialan itu karena  tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak. Buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan tawakkal pada Allah Swt.

 🌙 *Syekh Sholeh Al Fauzan berkata :* 
  _"Penyembuh dari "thiyarah" adalah dengan bertawakkal pada Allah. Kemudian  meninggalkan anggapan sial dan tidak memiliki keraguan lagi dalam hati."_

 ☪ Jauhkan perasaan sial karena sesuatu secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu, sebagaimana anggapan sial dibulan Shafar. Kalau di negeri kita, yang terkenal adalah beranggapan sial dengan bulan Suro, maka itu pun sama terlarangnya.

🌙 *Dari Abu Hurairah Ra,  bahwa Rasulullah Saw. bersabda :*
 _"Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar."_
  *(HR. Bukhari No. 5757 dan Muslim No. 2220)*

 ☪ *Ketika kita mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, dianjurkan untuk berdo'a :*

*اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ*

 _"Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali Engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan-Mu."_
 *(HR. Abu Daud)*

*Allahumma Aamiin*

*SEMOGA MANFAAT*

*Sumber :*
1. assunnah-qatar.com
2. almanhaj.or.id
3. rumaysho.com

Sabtu, 09 Mei 2020

Perbedaan Antara Maghfirah Dengan 'Afuw

Perbedaan Antara Maghfirah Dengan 'Afuw

Maghfirah adalah hak Allah untuk mengampuni kita atas segala dosa-dosa kita (dosa kecil, karena dosa besar hanya diampuni dengan taubat -red), tetapi dosa-dosa tersebut akan tetap tercatat di dalam buku amalan kita selama di dunia.

Maghfirah adalah ampunan Allah atas dosa-dosa kita, tetapi di Hari Pembalasan kelak, dosa-dosa tersebut tetap tertulis di dalam rapor kita. Allah akan menanyai kita tentang dosa-dosa tersebut, tetapi Allah tidak akan menghukum kita karenanya

'Afuw adalah hak Allah untuk mengampuni dosa-dosa kita, lalu menghapusnya dari buku catatan amal kita selama di dunia. Seolah-olah, kita tidak pernah melakukan dosa-dosa tersebut. 'Afuw adalah ampunan Allah atas dosa-dosa kita, yang lalu dosa-dosa tersebut akan dihapus secara total dari rapor kita, dan Allah tidak akan menanyai kita tentang dosa-dosa tersebut di Hari Pembalasan

Itulah kenapa Rasulullah (ﷺ) memerintahkan kita untuk membaca doa berikut di bulan Ramadhan, terutama pada malam Laylatul Qadr :

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni

(Ya Allah, Engkaulah Satu-satunya yang Maha Pengampun, dan Engkau suka memberi ampunan. Maka dari itu, ampunilah aku),
(HR Ahmad, Ibn Majah, dan Tirmidhi)

Jadi, pastikan kita senantiasa membaca doa tersebut sepanjang waktu, sebanyak mungkin. Jadikan ia sebagai dzikir harian kita. Bayangkan juga bahwa nanti ketika diri kita sedang berdiri di Hari Pembalasan, dimintai pertanggung jawaban atas segala amal perbuatan kita, dan kita tidak memiliki jaminan untuk memasuki Jannah-Nya. Tiba-tiba, kita mendapati bahwa kita memiliki bergunung-gunung Hasanat (pahala) di dalam rapor kita.

Tahukah kita dari mana pahala yang begitu banyak tadi datang?

Karena ketika di Dunia, kita terus-menerus mengucapkan, "SubhanAllah wa bihamdihi, SubhanAllah al 'Azhiim."

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda, "Dua kalimat yang ringan di lidah, tetapi berat timbangannya. Keduanya begitu disukai oleh Arrahman (Maha Pengasih) :

سُبْحَانَ اللّهِ وَ بِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللّهِ الْعَظِيمِ

SubhanAllahi wa biHamdihi, Subhan-Allahi 'l-`azhiim
(Mahasuci Allah, dengan segala pujian dan kesucian hanya teruntuk bagiNya, Yang Mahabesar)
(HR Bukhari, Muslim).

Bayangkan betapa banyak pula pahala yang akan dilipat gandakan jika kita membagikan ilmu ini, ilmu tentang keutamaan berzikir mengingat Allah. Betapa banyak yang akan mengucapkannya, dan kita akan mendapat aliran pahala dari mereka yang mengamalkannya setelah mengetahuinya dari kita.

"Siapa saja yang menunjuki orang lain pada kebaikan, baginya pahala yang sama dengan mereka yang melakukannya,"
(HR Muslim).


Wallahua'lam bish shawaab

Kamis, 07 Mei 2020

L E L A K I - L A N G I T

*_Kisah inspiratif menggugah hati_*

*L E L A K I - L A N G I T*

Tiba2 aku terbangun. Ketika jarum jam menunjuk angka 2.34 pagi. Setengah mengantuk aku bergegas ke kamar kecil.

Enam detik kemudian aku terpaku heran. Sdh ada ibu berdiri di depanku. Kenapa ibu ada di sini? Bukankah almarhumah sdh lama meninggalkan kami. Rasa kantung kemih penuh mendadak hilang ditelan bumi. Seorang lelaki yg tak kukenal berdiri di samping ibu. Badannya kurus, wajahnya tirus.

“Mas Bagus, ibu njaluk tulung yo.
(Ibu minta tolong). Kalau umroh titip ini", ujar ibu dg logat Jawanya yg kental sambil menunjuk lelaki di sampingnya.

“Nggih Bu. Tapi nuwun sewu, niku sinten toh?” (iya bu, tapi maaf itu siapa) tanyaku heran. Ibu tidak menjawab.

Lelaki itu kupandangi kemudian.

IMRUL. 
Aku melihat itu di atas saku kemejanya. Di bawahnya ada berderetan angka. Jelas sekali semuanya terbaca.

*Tiba2 aku terbangun & mengerjapkan mata.*

“Mas Bagus mimpi lagi ya?” ujar istriku lembut sambil membelai kepalaku.

Jantungku berdegup keras.

“Ini sudah 3 kali mimpi yg sama,” ujarku sambil bergegas pergi ke kamar kecil. Jarum jam 4.34 pagi. Adzan Subuh berkumandang.

***

Sopirku Pak Sanusi, mendengus pelan di belakang kemudi. Jakarta padat merayap malam hari ini. Duduk di kursi belakang, aku sibuk dg MacBook Pro menyelesaikan laporan audit tahunan yg hampir jatuh tempo. Saat Pak Sanusi meliukkan Toyota Camryku, aku jadi teringat pd mimpi semlm.

Almarhumah ibu & Ielaki yg tak pernah aku jumpa. Kemeja bertuliskan Imrul & sederetan angka.

Mungkinkah deretan angka itu nomor handphone? 
Apakah lelaki itu namanya Imrul?

Suara nada tunggu digantikan ucapan salam terdengar dari seberang sana, saat aku coba hubungi nomor tsb. Suara perempuan.

*“Apa saya bisa berbicara dg Pak Imrul?”*, tanyaku sedikit ragu.

Hening tak ada jawaban smp bbrp menit kemudian.

*“Assalamu’alaiku, Iya ini dg Imrul,”* suara lelaki sopan.

Degh !! Ini pasti cuma kebetulan, dan jantungku berdegup keras.

Tak ingin berlama-lama di telepon, malam itu aku menyambangi rumah Imrul, lelaki kurus berwajah tirus tsb. Usianya sekitaran 30 plus-minus.

Kami lesehan di atas lantai semen yg sebagiannya retak, di ruang tamu sebuah rumah petak.

*“Panggil Mas Imrul saja,”*
 ujarnya sopan. Aku tersenyum bercampur heran. Dari wajahnya, memang dialah lelaki yg ada dlm mimpiku itu.

*“Kalau boleh tahu, Bpk dapat nomor telepon ini dari mana?”*

Dan berceritalah aku tentang mimpi aneh yg berulang 3 kali itu. Mas Imrul diam. Wajahnya makin tirus mirip kucing restoran berharap makanan.

*“Apa sampeyan pernah bertemu almarhumah ibu saya?”* 
tanyaku sambil menyodorkan foto almarhumah di Instragram-ku. 
Tak perlu waktu lama buatnya untuk berkata *tidak*. 
Aku menggaruk kepala.

*“Mas, kalau bukan karena almarhumah ibu, saya tdk akan pedulikan mimpi itu”*, 
ujarku pelan sambil memegang pundaknya. 
*“Saya ingin mengajak Mas Imrul pergi umroh.”*

*“Tapi saya ini mantan napi Pak. Belum sebulan bebas,”* 
ujar Mas Imrul ragu. Sptnya dia tdk percaya dg ucapanku / ajakanku umroh.

Bulu tengkuk di leherku berdesir aneh.

***

*“Sampeyan dulu kenapa masuk penjara?”* tanyaku, duduk di samping Mas Imrul yg sdg terpesona. Seumur hidupnya dia baru pertama kali naik pesawat sebesar ini. Perjalanan 9 jam di kelas bisnis Jakarta - Jeddah, mubazir rasanya kalau tdk mencari tahu tentang dia. Lelaki biasa, mantan narapidana ini.

*“Sebelum masuk bui, kerja saya sbg satpam. Belum setahun, kantor yg saya jaga kerampokan. Teman sesama satpam, ternyata berkomplot. Dua hari sesdh kejadian, semua pelakunya diringkus polisi. Di pengadilan, teman itu berbohong kalau saya ikut terlibat. Padahal, waktu kejadian malam itu saya diikat di toilet. Hakim lebih percaya dia, akhirnya saya dipenjara. Vonisnya dua tahun,”* ujar Mas Imrul.

Aku menghela nafas.

*“Sebenarnya, yg bikin saya sedih bukan itu Pak,”* 
sambung Mas Imrul. Air matanya sedikit meleleh.

*“Lalu apa Mas?”* tanyaku penasaran.

“Saya gundah & khawatir. Kalau saya di penjara, siapa nanti yg akan merawat ibu. Saya anak satu-satunya. Apalagi ibu sdh lama lumpuh & tdk bisa melihat. Setiap hari saya menyuapi & memandikannya. Biar gaji kecil, setiap bulan saya selalu cukupkan membeli susu Ibu. Biar ibu tetap sehat.” Kali ini bulir air matanya mulai berjatuhan.

*Duh Gusti Allah, ternyata aku jauh dibanding Mas Imrul. Waktu almarhumah ibu dirawat di rumah sakit menjelang wafatnya, aku malah sibuk persiapan rapat pemegang saham perusahaan. Astaghfirullah.*

“Terus siapa yg mengurus ibunya Mas Imrul?” tanyaku sembari mengelap mata. Tak terasa aku ikutan menangis juga.

“Saya minta tolong Mbak Yuni, saudara jauh dari kampung. Itu lho, perempuan yg menerima telepon Pak Bagus tempo hari. Kebetulan saya masih ada sedikit tabungan, jadi semua uangnya dipakai buat mengurus ibu selama saya di penjara. Dia yg mengurus ibu semenjak itu. Saya minta dia datang tiap hari ke penjara, menceritakan kondisi ibu. Kalau Mbak Yuni datang & cerita ttg Ibu, hati saya lega rasanya. Hati selalu was-was kalau Mbak Yuni datangnya telat, khawatir ada apa-apa pd Ibu.”

Aku cuma menunduk. Malu pd lelaki di sampingku ini. Jabatanku  mentereng, gaji ratusan juta, tp tak bisa dibandingkan dg ketulusan Mas Imrul dlm merawat ibunya. *Gusti Allah, apa yg Engkau mau dari pertemuan aku dg lelaki sholeh ini?* Biar aku sadar kesalahanku? Bukankah percuma krn almarhumah sdh tiada?

*“Baru 6 bulan di penjara, Mbak Yuni kapan itu gak datang dua hari Pak”*, Mas Imrul melanjutkan ceritanya. *“Saya was-was. Ternyata Ibu saya meninggal dunia Pak. Sedihnya lagi, Pak sipir penjara nggak ngebolehin saya keluar sebentar buat nyekar ke makam. Saya cuma bisa nangis di penjara Pak. Mohon ampun sama Allah.”*

Air mataku menderas. *Duh Gusti Allah, cobaan hidup lelaki ini ternyata berat. Aku belum tentu kuat menjalaninya.*

*“Mas Imrul kan vonisnya 2 th. Kenapa bisa bebas lebih cepat?”* tanyaku sambil menyeka air mata.

*“Oh, kalau itu krn kasus saya diperiksa kembali sama polisi dan pengadilan Pak,”* ujarnya sambil ragu mengambil kain hangat yg disodorkan awak kabin.

*“Setelah sidangnya diulang, terbukti saya memang tdk bersalah. Teman yg berkomplot itu akhirnya berterus terang,”* ujar Mas Imrul pelan. *“Sebetulnya saya sdh memaafkan teman itu. Sejak pertama kali difitnah.”*

“Sejak pertama kali sdh memaafkan?” tanyaku tambah heran.

*“Iya Pak Bagus. Kalau ada orang memfitnah, buat saya cuma dua. Kalau fitnah itu benar, maka saya mohon ampun sama Allah. Tapi kalau fitnah itu salah, maka saya maafkan & mohon ampunkan dia dari kemurkaan Allah,”* ujarnya datar.

*Degh !! Aku langsung teringat fitnah yg menimpaku setahun yg lalu. Aku dituduh memanipulasi laporan pajak perusahaan. Si penuduh berhasil aku sikat habis di pengadilan. Aku beruntung dpt pengacara yg handal, tapi sekarang aku menyesal. Mengapa sepertinya kata maaf tdk pernah ada dlm kamus hidupku selama ini.*

*Ternyata lelaki ini bukan orang biasa. Mas Imrul, seorang satpam mantan narapidana, tdk terkenal di bumi, tapi terkenal di langit. Inilah lelaki langit yg semua malaikat pencatat kebaikan pasti mengenalnya.*

***
Tiga hari di Mekkah kami menginap di Royal Clock Tower. Aku & Mas Imrul menghabiskan seluruh hari penuh dg ibadah. Tak cuma itu. Ada yg spesial di umrah kali ini & itu semua krn Mas Imrul. Aku biasa telat sholat fardhu, lalu sholat berjamaahnya cuma di dekat hotel. Tapi tdk saat bersama Mas Imrul. *Kami selalu berada di shaf depan, melihat langsung Ka’bah. Aku belum pernah mencium hajar aswad pdhl umrah berkali-kali, tapi tdk saat bersama Mas Imrul. Badannya yg kurus justru berhsl membawaku mencium batu hitam itu berkali-kali sepuasnya. Kami juga sholat di hijir Ismail & lama berdo’a di Multazam, antara hajar aswad & pintu Ka’bah. Semuanya lancar tanpa halangan.*

Mas Imrul terlihat sangat menikmati perjalanan umroh ini. Dlm benakku, kalau pulang nanti dia akan aku pekerjakan sbg satpam di rumahku.

Hari keempat kami berangkat ke Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawaroh. Dlm bis VIP Mas Imrul lebih banyak diam & berdzikir.

*“Kalau saya perhatikan, Mas Imrul tak pernah kelihatan susah,”* ujarku sambil memiringkan sedikit badan ke arahnya.

*“Allah yg membolak-balikkan hati Pak,”* ujarnya datar. *“Maka mintalah itu pada-Nya. Kalau kita menjaga Allah, kita pun akan dijaga-Nya.”*

*“Maksudnya menjaga Allah itu bagaimana Mas?”*

*“Jaga Allah dg menyempurnakan hari,”* ujar Mas Imrul serius.

*“Maksudnya bagaimana Mas?”*

*“Hari yg sempurna itu diawali dg bangun malam. Sholat tahajjud & witir. Minimal 2 plus 1. Lalu Dhuha minimal 2, dan sholat rawatib yg jmlhnya 12 raka’at. Utamanya sholat sunnah fajar sebelum subuh. Selalu sholat wajib berjama’ah di masjid. Membaca Al-Qur’an minimal 1 juz setiap hari. Senin-Kamis puasa sunnah. Itulah hari yg sempurna.”*

*Aku hanya terpana. Mobil camry & rmh mewah hasil jerih payahku, jadi spt harta tak bermakna.*

Sampai di Madinah, setelah sholat ashar di masjid Nabawi, kami berdesakan menuju Rawdhah. Area khusus dg karpet hijau itu memang jadi rebutan para jama’ah. Kami menunggu giliran dg sabar, berdiri di belakang pembatas putih. Ketika petugas masjid membukanya, serentak setengah berlari kami menuju pojok paling dekat dg tembok di sebaliknya makam Rasulullah ﷺ

*“Mas, ayo cepat sholat di sini. Perbanyak istighfar, shalawat & do’a. Ini salah satu tempat yg paling mustajab buat berdo’a,”* ujarku sambil bersiap-siap sholat. Di sampingku Mas Imrul dg khusyu’ mendirikan sholat sunnah. Selesai sholat, aku duduk berdo’a di sampingnya yg masih berlama-lama sujud. Area rawdhah sdh sesak dipenuhi jama’ah.

Tak smp 10 menit kemudian, muncul petugas masjid menyuruh kami segera pergi. Waktu sdh habis. Sekarang giliran jama’ah lainnya yg sdh menunggu di balik pembatas putih. Aku melihat Mas Imrul masih sujud. Petugas masjid menepuk pundak-ku, menyuruh kami segera pergi. Entah do’a apa yg dipanjatkan Mas Imrul, mengapa begitu lama.

*Aku mengguncang halus punggungnya. Badannya terguling lemah. Mas Imrul telah tiada. 
Wajah tirusnya tersenyum damai. Dia meninggal dlm keadaan terbaiknya. Husnul khotimah saat sujud di Rawdhah, *taman surga.* 
Badanku lemas. 
Jantungku berdegup kencang. 
*Lelaki langit telah kembali kepada Rabb-nya.*

***
Aku duduk sendiri di kelas bisnis. Penerbangan Jeddah - Jakarta terasa lengang. Baru saja aku terlelap di kursi, suara awak kabin membangunkan para penumpang untuk makan malam, 6 detik kmdn aku terduduk diam. Kenapa ibu yg membangunkanku? Ibu kan sdh meninggal.
j
*“Mas Bagus, suwun yo!,”* ujar ibu dengan logat Jawanya yg kental & senyum khasnya......

(Hendra Suryakusuma) 
*L E L A K I - L A N G I T.*

Jumat, 28 Desember 2018

Kisah Laila al-Halwa Sembuh Dari Sakit Kanker

Kisah Laila al-Halwa Sembuh Dari Sakit Kanker

Siapa yang tidak kenal dengan Laila al-Halwa dan kisahnya?

Seorang muslimah dari Maroko yg terkena pelet ganas dan mematikan yaitu kanker.

Kepada semua yg terkena penyakit ganas ini, kepada semua yg putus asa dr harapan sembuh akibat penyakit ini, kepada siapa saja yg menginginkan kesembuhan dr kanker, kepada mereka semua dan siapapun, ingatlah kalian akan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

Allah SWT berfirman:

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ  لَهٗۤ اِلَّا هُوَ ۗ  وَاِنْ يَّمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ  قَدِيْرٌ
wa iy yamsaskallohu bidhurrin fa laa kaasyifa lahuuu illaa huw, wa iy yamsaska bikhoirin fa huwa 'alaa kulli syai`ing qodiir

"Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 17)

Gambaran dr ayat ini terlihat jelas dalam kisah Laila al-Halwa. Berikut penuturannya:

Sudah 9 THN sy menderita penyakit ganas dan mematikan yaitu kanker. Saat itu keimanan kita kepada Allah sangat lemah. Sy jauh dr Tuhan dan Syari'at-Nya. Waktu itu sy menganggap bahwa kecantikan wanita akan terus abadi seoanjan hidupnya, demikian pula dgn kemudaan dan kesehatannya. Sy pun tdk pernah menyangka sama sekali bahwa sy akan terkena kanker yg ganas dan mematikan.

Ketika terkena penyakit ini sy  sangat shock. Kadang sy berpikir untuk lari, akan tetapi kemana? Karena penyakitku akan selalu bersamaku dimana pun sy berada. Kadang pula sy berfikir utk bunuh diri, akan tetapi begitu teringat dgn suami dan anak2nya, sy pun menjadi kasihan terhadap mereka. Tidak terbesit dalam pikiranku bahwa Allah akan menghukumku jika aku bunuh diri, karena sebagaiman yg telah kukatakan sebelumnya bahwa saya lalai dan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ternyata Allah hendak memberiku hidayah melalui penyakit ini dan juga kepada banyak orang. Maka kesembuhanku pun diatur olehNya secara perlahan-lahan.

Ketika terkena penyakit ini, aku pergi ke Belgia dan berkonsultasi dgn banyak dokter disana. Kata mereka kepada suamiku, "Payudara istrimu harus dipotong, kemudian rambut-rambut yg ada di tubuhnya harua dihilangkan, termasuk bulu mata dan alis, kuku dan giginya harus dipotong dan dilepas."

Semua saran dokter kutilang dgn tegas, "Saya lebih suka mati dgn payudara yg utuh dan rambut yg utuh pula serta semua yg diciptakan Allah pada tubuhku."

Kemudian aku meminta obat ringan dan mereka pun memberikannya.

Kami pun kembali ke Maroko dan menggunakan obat yg dikasih sang Dokter, akan tetapi tidak berpengaruh apa-apa. Mulanya aku gembira dan mengatakan, Mungkin dokter salah prediksi dan aku tidak terkena penyakit kanker."

Akan tetapi setelah 6 bukan aku merasa berat tubuhku berkurang, warna kulitku berubah dan sering merasa sakit-sakitan. Akhirnya dokter langgananku di Maroko menyarankan agar aku kembali ke Belgia untuk berrobat.

Dokter mengatakan kepada suamiku, bahwa mereka menyerah karena tidak mempunyai obat lagi untuk penyakitku. Kata mereka kepada suamiku, "lebih baik kamu bawa kembali isterimu ke Maroko agar ia meninggal di sana."

Suamiku sangat kaget mendengarnya dan kami tidak langsung pulang ke Maroko, akan tetapi pergi Perancis utk mencari obat disana. Akan tetapi hasilnya pun sama dan kami tdk menemukan apa-apa. Akhirnya kami pasrah dan meminta bantuan kepada seseorang untuk masuk rumah sakit guna melakukan pengobatan yaitu motong payudara dan menghilangkan rambut-rambut di tubuh dan lain sebagainya.

Akan tetapi suamiku teringat sesuatu yg telah lama kami lupakan sepanjang hidup kami. Allah telah memberi Ilham kepada suami agar kami pergi ke Mekkah untuk mengunjungi Ka'bah guna memohon kepada Allah agar penyakitku bisa sembuh. Dan akhirnya kami pun pergi kesana.

"Kamipun tiba di Masjidil Haram. Ketika masuk dan melihat Ka'bah, aku menangis tersedu-sedu karena mengingat banyaknya dosa yang telah kulakukan. Aku teringat begitu banyak kewajiban yang telah kutinggalkan sehingga aku mengatakan, "Ya Rabbi, akutelah berusaha semaksimal mungkin dengan berobat kepada dokter, sekarang tidak ada yang kumohon selain kepada-Mu. Karena itu janganlah Engkau tutup pintu taubat untukku."

Aku melakukan tawaf dan memohon kepada Allah agar tidak menyia-nyiakanku. Aku memohon agar diberi kesembuhan supaya para dokter heran dan kaget dengan hal tersebut.

Sebagaimana yg telah ku jelaskan sebelumnya, bahwa aku lalai kepada Allah dan tidak mengerti agamaNya. Maka aku pun mengunjungi Syekh dan Ulama yg berada di sana untuk minta doa-doa ringan yang bisa kuhapal. Mereka menyarankan agar aku banyak membaca Al-Qur'an dan meminum air zam-zam. Mereka juga menasehatiku agar banyak berdzikir dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam.

Aku merasa tenang dan tentram berada di tanah haram. Aku pun meminta ijin kepada suamiku agar diperbolehkan tinggal di Masjidil Haram dan tidak pulang ke hotel. Setelah diberi ijin aku selalu berada di Masjidil Haram untuk berdzikir dan beribadah.

Di Masjid aku ditemani banyak wanita yg melihatku sering menangis. Mereka pun menanyakan kepadaku tentang sebab tangisku, dan aku menjawab, "Karena aku telah berada di Masjidil Haram dan aku tidak menyangka sama sekali akan begitu mencintainya. Kedua karena aku terkena penyakit kanker dan menginginkan kesembuhan."

Mereka tetap menemaniku dan tidak meninggalkanku. Aku katakan kepada mereka bahwa aku sedang ber'itikaf di Masjidil Haram, maka mereka pun meminta ijin kepada suami mereka agar diperbolehkan untuk ber'itikaf bersamaku. Di masjid aku tidak tidur dan tidak makan kecuali sedikit, akan tetapi aku banyak meminum air zamzam, mengingat Nabi shalallahu'alaihi wasallam bersabda, "Air zam-zam adalah tergantung untuk apa ia diminum (sesuai dengan niat orang yang meminumnya)".

Jika ia diminum utk penyembuhan, maka Allah akan menyembuhkan penyakit tersebut. Jika diminum karena haus, maka Allah akan menghilangkan dahaga tersebut. Dan jika diminum dalam rangka mohon pertolongan kepada Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan-Nya.

Berkat meminum air zamzam aku tidak merasa haus. Aku terus melakukan thawaf tanpa henti dan menunaikan shalat dua rakaat. Begitulah yang kulakukan sehari-harinya: thawaf, shalat, membaca Al-Qur'an, dan meminum air zamzam. Aku juga jarang tidur kecuali sebentar saja.

Kondisiku semakin lemah dan kurus dan bahan atas tubuhku membengkak dan banyak muncul benjolan-benjolan (tumor). Hal ini semakin memperkuat bahwa penyakitku telah menyebar di bagian atas tubuhku. Teman-temanku menyarankan agar bagian yang membengkak tersebut dibasuh dgn air zamzam, akan tetapi aku tidak mau memegang bengkak dan benjolan tersebut karena takut akan memalingkanku dari dzikir dan ibadah kepada Allah. Akhirnya aku hanya membasuhnya tanpa menyentuh bagian tubuh yang bengkak tersebut.

Pada hari kelima teman-temanku mendorongku agar aku membasuh tubuhku dgn air zamzam. Mulanya aku menolaknya, akan tetapi seakan-akan ada kekuatan yang mendorongku untuk melakukan hal tersebut. Memang awalnya aku merasa takut, tetapi kemudian muncul dorongan tersebut dan utk yg kedua ini aku merasa ragu. Hingga utk ketiga kalinya seakan-akan ada kekuatan yg mendorongku utk mengambil air zamzam dan membasuhkannya ke tubuhku dan payudaraku yg penuh dgn darah dan nanah serta benjolan. Tiba-tiba terjadi hal menakjubkan yg sama sekali tidak terbayangkan dalam pikiranku, yaitu seluruh bengkak dan benjolan tersebut hilang dari tubuhku tanpa tersisa sedikitpun. Aku pun tidak lagi merasa sakit, tidak ada lagi darah dan nanah di tubuhku.

Mulanya aku sangat kaget. Akupun memasukkan tanganku ke dalam bajuku utk memastikan apakah masih ada benjolan dan bengkak di tubuhku, akan tetapi aku tidak menemukan apa-apa. Aku agak takut ketika itu, akan tetapi kemudian aku teringat bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kemudian aku meminta kepada salah seorang temanku agar memegang tubuhku dan mencari benjolan dan bengkak tersebut, ternyata benar bahwa semuanya telah hilang dr tubuhku.ereka pin menjerit histeris seraya berucap "Allahu Akbar, Allahu Akbar".

Selanjutnya aku segerapergi menemui suamiku utk mengabarkan kesembuhanku. Begitu masuk hotel dan berada di hadapannya, aku langsung menyobek bajuku seraya berkata, "lihatlah Rahmat Allah".

Kuceritakam semua yg terjadi kepadanya. Tetapi ia tdk mempercayainya. Ia menangis dan menjerit seraya berkata, "Tahukah kamu bahwa dokter mengatakan bahwa kematianmu tinggal tiga Minggu lagi?"

Kukatakan kepadanya, "Ajal dan latihan hanyalah di tangan Allah, dan tidak ada yang mengetahui hal ghaib selain Allah".

Tutur Laila al-Halwa selanjutnya, Kami tinggal di Masjidil Haram selam seminggu. Kami memuji Allah dan bersyukur atas nikmatNya yang tiada terhingga. Kemudian kami mengunjungi Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah, lalu kembali ke Perancis. Para Dokter di sana terheran-heran dengan keadaanku dan sangat bingung. Mereka menanyakan kepadaku, "Apakah Anda wanita yang pernah berobat kepada kami?"

Dengan mantap dan percaya diri kujawab, "Ya, akulah orangnya dan inilah suamiku. Aku telah kembali kepada Tuhanku, dan aku tidak takut apapun kecuali kepada-Nya. Semua yang terjadi adalah takdir dan kehendak-Nya."

Para dokter mengatakan, "Kondisi Anda sangat aneh dan mengherankan, semua bengkak dan benjolan telah hilang, karena itu perlu diadakan pemeriksaan ulang."

Ketika mereka memeriksa dan meneliti tubuhku, mereka tidak menemukan apa-apa dan penyakitku benar-benar telah sembuh total. Sebelumnya aku tidak bisa bernafas karena benjolan dan bengkak tersebut, akan tetapi ketika tiba di Masjidil Haram dan mohon kesembuhan kepada Allah, semuanya hilang dari tubuhku.

Setelah itu aku mulai membaca buku-buku sejarah Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam dan para Sahabatnya -radhiyallahu 'anhuma-. Aku banyak menangis setelah itu karena mengingat dosa-dosa yang telah kulakukan di masa lalu. Aku mohon kepada Allah agar menerima taubatku dan keluargaku serta segenap kaum muslimin.

Itulah kisah Laila al-Halwa wanita muslim dari Maroko yang tidak pernah menyerah berjuang untuk sembuh dari sakit Kanker yang dideritanya. Hingga pada akhirnya Allah adakan jalan keluar dan Allah turunkan pertolongan-Nya yaitu berupa kesembuhan dari sakit panjangnya, yaitu dengan berikhtiar meminum air zamzam dan ke Mekkah untuk beribadah serta memohon kesembuhan padaNya

Dia-lah Allah...
Rabb Langit dan Bumi
Semua yang ada di langit bertasbih menyebut namaNya
Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah Azza wa Jalla
Tempat bergantung bagi seluruh makhluk
Tidak beranak dan tidak pula diperanakan
dan tidak ada yang setara dengan Dia.

Teruntuk saudara-saudaraku yang saat ini sedang Allah uji dengan sakit. Jangan berkecil hati. Sakit ini adalah Rahmat dari Allah. Sakit ini adalah tanda cinta Allah kepada hambaNya. Selalu ada hikmah dibalik ujianNya. Dan ingatlah, bahwa temannya pertolongan adalah kesabaran. Dan jalan keluar selalu ada di setiap kesempitan.

Jangan pernah berhenti untuk berdoa memohon pertolongan dan kesembuhan padaNya. Dan jangan pernah berhenti bertobat nasuha serta jangan pernah berhenti untuk berikhtiar dengan jalan-jalan syar'i yang Allah ridho dan sesuai dengan Sunnah Nabi 'alayhissholatu wassalam

Semoga kita semua yang sedang Allah uji sakit, Allah berikan jalan keluar dan kesembuhan dari sakit yang diderita. Dan lewat sakit ini pula Allah gugurkan kesalahan serta dosa yang pernah kita perbuat di masa lalu.

Dan bagi sahabat yg punya rizki lebih bisa ikhtiar sebagaimana ikhtiarnya Laila al-Halwa di atas. Allahu'alam

💌 Barakallahu Fiikum...

Sangat dianjurkan untuk disebarkan ke banyak orang. Agar mereka mendapatkan manfaat yang sama seperti anda saat ini. Semoga tercatat sebagai amal shalih

Sumber : kisah Islam.net

Sabtu, 12 Mei 2018

KESABARAN MEMBUAHKAN HASIL - ULTIMATE TAWAKAL

Kisah Nyata Dari Tanah Arab
*KOTA RIYADH TERNYATA MENYIMPAN BANYAK KISAH DAN RAHASIA YANG HANYA DIPERLIHATKAN PADA TELINGA YANG MAU MENDENGAR DAN HATI YANG MAU MERASA. TENTU SAJA HIDAYAH ADALAH KEHENDAK NYA DAN HANYA AKAN DIBERIKAN KEPADA MEREKA YANG MENCARINYA.*
-------------------------
Ada sebuah energi yang luar biasa ketika beberapa hari yang lalu kudengar cerita dari beberapa sahabatku. Mereka berasal dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka Mesir, Afrika dan Saudi Arabia . Salah satunya adalah teman dari Sudan.
Aku mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu muslim kulit hitam yang juga bekerja di hotel ini. Beberapa bulan belakangan aku tak lagi melihatnya. Biasanya ia bekerja bersama pekerja lain menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh .
Hari itu Ammar tidak terlihat, karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal .
“Oh kamu tidak tahu?” jawabnya balik bertanya dengan bahasa Inggris khas India.
“Iya, beberapa minggu ini dia tak terlihat di mushola.”
Selepas itu tanpa diduga Iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar.
Ternyata Amar datang ke kota Riyadh lima tahun lalu. Ia datang ke negeri ini dengan tangan kosong, dan nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di kota ini. Saudi Arabia memang memberikan free visa untuk negara negara Arab lainnya termasuk Sudan, maka Ammar bisa bebas mencari kerja disini asal punya pasport dan tiket.
Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal bersa,a teman temannya. Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.
Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat, bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di kota ini.
Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana kota yang garang, tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.
Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.
Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia, hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Di hampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..
Amar seperti terjerat di belantara kota ini. Pulang ke Sudan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya disana, itu tekadnya. Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.
Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.
Tapi Ammar pun manusia.
Di tahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan, tekadnya telah bulat untuk kembali berkumpul dengan keluarganya di Sudan.
Saat itu ia tidak memiliki uang meski sebatas untuk tiket pulang. Ia terpaksa menceritakan keinginannya untuk pulang kepada teman2 terdekatnya. Dan salah satu teman baik Ammar memberinya sejumlah uang untuk membeli tiket ke Sudan.
Hari itu juga Ammar berpamitan pada teman2nya, ia pergi ke sebuah agen perjalanan di Olaya- Riyadh, untuk membeli tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, negara tetangganya. Saat itu tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.
Akhirnya ia membeli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan. Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya.Tadi pagi ia tidak sarapan , siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan keadaan itu.
Adzan dzuhur bergema, semua toko toko, supermarket, bank, dan kantor pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security kota berjaga jaga di luar kantor menunggu hingga waktu shalat berjamaah selesai. Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu, membasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air. Lalu ia masuk ke dalam mesjid, shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.
Hanya disaat shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban dunia yang menghimpitnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.
Shalat telah selesai.
Ammar masih bingung kemana harus melangkah, sedangkan penerbangan masih seminggu lagi.
Dilihatnya beberapa mushaf Al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengambil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan ashar tiba menyapanya, selepas maghrib ia masih di sana. Akhirnya Ammar memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.
Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya, seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota. Ia selalu mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing. Adzannya memang khas, hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat subuh berjamaah disana. Adzan yang juga ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.
Di tiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya. Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis, Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.
Amar sudah duduk diruang tunggu bandara, tampaknya penerbangan sediikit tertunda. Ammar melamun dan kecemasan mulai menghantui dirinya. Ia harus pulang tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ia terus bekerja keras.
Namun ia memahami, inilah kehidupan dan dunia hanyalah persinggahan sementara. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta dengan mengeluh. Ia tetap berjalan walau tertatih memenuhi kewajiban sebagai Hamba Allah, dan sebagai imam dalam keluarganya.
Tiba tiba dari speaker bandara terdengar suara memanggil namanya. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba2 datang sekelompok orang berbadan tegap menghampirinya. Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”. Ammar semakin bingung ada apa Prince memanggilnya?
Kerajaan Saudi memiliki banyak Prince dan Princess (Putra dan Putri Kerajaan) , mereka tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini dan tinggal di istana masing masing.
Setiap kali Ammar adzan Prince selalu bangun dan merasa terpanggil untuk sholat. Hingga suatu hari suara Ammar beradzan tak terdengar lagi . Prince merasa kehilangan dan saat mengetahui bahwa sang muadzin pulang kenegerinya. dia langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar .
Ammar sudah tiba di istana dan Prince menyambutnya dengan ramah sambil menanyakan mengapa Ammar ingin kembali ke negerinya. Lalu ia mulai bercerita bahwa sudah lima tahun bekerja di kota Riyadh tapi tak pernah mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya di Sudan.
Prince mengangguk nganguk dan bertanya:
“Berapakah gajimu dalam satu bulan?”
Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji berbulan bulan. Prince memakluminya, lalu beliau bertanya lagi:
“Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu terima ?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun ini.
“Alhamdulilah, SR 1.400 “, jawab Ammar.
Prince langsung memerintahkan bendahara untuk menghitung 1.400 Real dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Lalu Prince menyerahkan uang tersebut kepada Ammar.
Tubuh Amar gemetar melihat keajaiban dihadapannya, belum selesai bibir mengucapkan Al Hamdalah, Prince menghampiri dan memeluknya seraya berkata:
“Aku tahu cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini, lalu kembalilah setelah 3 bulan. Saya siapkan tiket untuk kamu dan keluargamu kembali ke kota Riyadh. Jadilah Bilal di masjidku dan hiduplah bersama kami di Palace ini.“
Ammar tak dapat menahan air matanya, ia bukan terharu karena menerima sejumlah uang walau uang itu sangat besar artinya bagi keluarganya yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikan hambanya, kesabaran selama lima tahun berakhir dengan indah.Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan Ammar.
Semua berubah dalam sekejap, lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. tapi nothing imposible for Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.
Ini kisah nyata yang tokohnya masih berada di kota Riyadh, saat ini Ammar hidup cukup di sebuah rumah di dalam istana milik Prince. Ammar dianugerahi Allah hidup yang baik didunia, menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Subhanallah….seperti itulah buah dari kesabaran.
“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.
Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran, *karena Sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.* (NAI)
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
*”Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”*  (Al Fushilat 35)
Allahu akbar! Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya.
Kisah nyata yang memberi pelajaran pada kita semua. Insya Allah yg terbaik akan diberikan Allah pada mereka yang berdo'a dengan ikhlas dan terus berusaha.
*Semoga bermanfaat ...*
Dari WA grup

Senin, 28 Agustus 2017

MENEMPATKAN ALLAH PADA DIRI ANAK (implementasi tawakal)

Bismillah...

*MENEMPATKAN ALLAH PADA DIRI ANAK*

Kunci utama dalam pengasuhan itu sebetulnya sederhana : menempatkan Allah pada diri anak, itu saja.

Namun ini adalah sebuah proses yang lama dan panjang, memerlukan kesabaran, kepercayaan dan frekuensi yang sering, terus menerus, dan tak ada habisnya.

Hal pertama yang perlu diberitahu pada anak adalah: "Allah sangat menyayangimu".

Ayah ibu yang cuma dititipkan saja, sayangnya bisa sampai ujung dunia. Apalagi sayangnya Yang Maha. Allah memberi hal-hal yang ibu dan ayah tak akan pernah bisa beri, mata, hidung, telinga, belum lagi pankreas, jantung dan pembuluh darah yang bekerja sempurna. Nikmat udara dan air bersih tidak terhingga, sampai
tidak bisa terhitung karuniaNya. Bahkan nafas yang baru saja engkau tarik itu..adalah hadiah dariNya!

~~~
Hal kedua adalah bahwa "bukan saja Allah Maha Melihat, Allah memiliki 'CCTV' tanpa cela", Raqib dan Atid namanya.

Mereka melihat, mencatat semua amal dan dosa, yang disembunyikan, yang tampak, walau ayah dan ibu tidak disampingmu.

Dengan mengetahui ini, anak tidak akan pernah ketakutan. Karena Pemiliknya memberikan 'bodyguard' yang selalu siap siaga. Tapi anak juga akan berhati-hati dalam setiap perilaku, karena malaikat-malaikat ini sungguh jeli.

~~~
Ketiga, selalu terbuka 'jalur komunikasi', minimal 5x sehari. Bahkan lebih dengan yg sunnah.

Saat berkomunikasi, kita boleh minta apaaaa saja tanpa batas. Allah Maha pembuat keajaiban dengan mudah, dan Allah bahkan tahu apa yang kamu inginkan, tanpa kamu minta.

~~~
Ke empat, Allah memberikan buku pedoman yang tidak berubah. Di dalamnya tertera jelas bagaimana cara menjalankan hidup dengan baik.

Untaian kalimat-kalimatNya dapat menenangkan hatimu di kala gundah. Tapi jangan hanya sekedar dibaca, pahami maknanya, dan jadikan petunjuk. Semua jawaban ada disana

~~~
Terakhir, Allah memberikan 2 pilihan jalur yang dapat di tempuh. Ke 'kiri' neraka, ke 'kanan', kenikmatan di luar akal manusia.

Ayah dan ibu hanya bisa berusaha sekuat tenaga agar engkau berada di jalur yang benar. Tapi ketika kami tiada, semuanya keputusanmu. Kamu bertanggungjawab pada semua pilihan yang kamu ambil.

~~~
Jika 5 hal ini kokoh tertanam, ayah bunda tidak perlu khawatir anak akan berbohong atau mencuri, berzina atau meninggalkan shalat dan kewajiban lainnya.
Mereka tahu bahwa ayah bunda hanya 'mentor' saja. Ada 'bos besar' yang akan meminta pertanggungjawaban hidupnya.

Mata dan tangan ayah bunda terbatas, tapi pandangan dan bantuan Allah tidak. Kekayaan ayah-ibu terbatas, kekayaan Allah tidak. Anak tidak akan malas belajar Al Quran, karena buku petunjukNya adalah petunjuk bagi mereka yang berpikir.

Nikmat sekali membesarkan anak jika Allah sudah tertanam kokoh dalam dirinya. Tidak perlu kerja keras, banyak bicara, dan jadi 'satpam' yang selalu curiga. Jika sejak kecil dia tau Allah ada, sampai mati anggapan itu tak kan berubah.

Jadi apapun yang Ayah Bunda ingin ajarkan ke anak, ingat.. Allah dulu.

First things first,
so you can enjoy your children..:)

Sumber: FB Yayasan Kita dan Buah Hati